Jakarta (ANTARA) - Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Global Cancer Observatory memperkirakan terdapat 474.083 kasus baru dan 283.299 kematian akibat kanker di Indonesia pada 2024. Pedoman Kementerian Kesehatan yang terbit pada 2026 juga mencatat bahwa lebih dari 70 persen pasien datang ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut.

Angka tersebut menunjukkan masalah yang sangat nyata. Banyak pasien belum menemukan penyakitnya sejak awal. Sebagian harus menempuh perjalanan jauh, menunggu pemeriksaan, atau menghadapi biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, kesempatan untuk memperoleh pengobatan terbaik dapat berkurang.

Indonesia sebenarnya telah memiliki Rencana Kanker Nasional 2024-2034. Arah kebijakannya mencakup pencegahan, pemeriksaan dini, pengobatan, perawatan paliatif, pencatatan kasus, dan perbaikan tata kelola. Tantangannya adalah memastikan rencana tersebut benar-benar terasa di rumah sakit, puskesmas, dan kehidupan pasien.

Kanker bukan satu penyakit

Kanker sering dibicarakan seolah-olah merupakan satu penyakit. Padahal, kanker terdiri atas banyak jenis yang berbeda. Kanker payudara, paru, hati, darah, atau usus mempunyai sifat dan cara pengobatan yang tidak sama. Bahkan dua orang dengan kanker pada organ yang sama dapat memberikan respons yang berbeda terhadap obat yang sama.

Baca juga: Peneliti Unesa kembangkan kandidat obat antikanker dari flora tropis

Di dalam satu tumor pun terdapat kelompok sel yang beragam. Sebagian tumbuh cepat, sebagian lebih lambat, dan sebagian dapat bertahan setelah pengobatan. Sel yang bertahan inilah yang kadang tumbuh kembali dan membuat penyakit sulit dikendalikan.

Kanker juga dapat menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis. Ketika telah menyebar, sifat sel kanker di tempat baru bisa berbeda dari tumor asalnya. Itulah sebabnya dokter sering memerlukan pemeriksaan berulang untuk memahami perubahan penyakit dan memilih terapi yang paling sesuai.

Selain itu, tumor tidak hidup sendirian. Ia berada di tengah pembuluh darah, jaringan penunjang, dan sel-sel kekebalan tubuh. Lingkungan di sekitar tumor dapat melindunginya dari obat atau menghambat kerja sistem imun. Karena itu, pengobatan kanker bukan sekadar membunuh satu jenis sel, melainkan menghadapi penyakit yang terus berubah.

Sistem imun bisa dikelabui

Sistem imun memiliki kemampuan mengenali sel yang tidak normal. Namun, sel kanker berasal dari sel tubuh sendiri sehingga tampilannya sering mirip dengan sel sehat. Sistem imun harus berhati-hati agar tidak menyerang jaringan normal.

Kanker memanfaatkan keadaan tersebut. Sebagian tumor dapat menyamarkan tanda pengenal atau mengirimkan sinyal yang membuat sel imun melemah. Salah satu contohnya adalah hubungan antara PD-1 dan PD-L1, yang bekerja seperti pedal rem pada sel imun.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.