Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya
Jakarta (ANTARA) - Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mencatat Indonesia Financial Group (IFG) memangkas 12 entitas sebagai bagian dari transformasi ekosistem BUMN.
“Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Selama ini banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Inilah yang menyebabkan kita terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ujar Dony dalam keterangan yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Kamis.
Untuk itu, pada Rabu (22/7), Dony menggelar pertemuan bersama jajaran Direksi IFG untuk membahas percepatan program streamlining, perkembangan transformasi holding, serta penguatan tata kelola dan efisiensi perusahaan asuransi BUMN.
Dalam arahannya, Dony menekankan bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi.
Menurutnya, berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko perusahaan.
Ia juga mengingatkan adanya ketidakseimbangan portofolio investasi yang perlu segera diselesaikan.
Dony menilai pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi dengan kinerja aset investasi, khususnya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan apabila tidak segera ditangani.
“Sekarang kita menyadari ada ketidakseimbangan dalam portofolio kita. Saya khawatir gap-nya justru semakin besar karena liabilities terus meningkat, sementara ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Ini harus diselesaikan dengan cepat,” kata Dony.
Melalui transformasi holding dan program streamlining, IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7), menyatakan uang negara yang dihemat setelah menutup, merger, dan mengonsolidasikan 250 BUMN hingga 31 Juli 2026 mencapai Rp50 triliun.
Penghematan itu, Prabowo melanjutkan, merupakan biaya rutin (overhead cost) yang bisa dihemat karena negara tidak perlu lagi menggaji direksi, komisaris, membayar sewa gedung beserta listriknya, dan pengeluaran lainnya dari 250 BUMN tersebut.
Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo kemudian menargetkan pada akhir tahun 2026 ini, jumlah BUMN yang tersisa maksimal 350 BUMN dari semula 1.077 BUMN.
"Mereka (Danantara, red.) menyanggupi," kata Prabowo.
Jika perampingan itu terwujud, Presiden yakin uang yang bisa dihemat dapat mendekati Rp70 triliun sampai Rp80 triliun.
Oleh karena itu, Presiden pun meyakini Danantara merupakan salah satu capaian dalam pemerintahannya.
Baca juga: Ekonom nilai streamlining BUMN tepat untuk tingkatkan efisiensi
Baca juga: Ekonom: Streamlining BUMN fokus selesaikan perusahaan tidak produktif
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.