Utility First, Investment Follows bukan sekadar slogan, tapi paradigma pembangunan baru yang memastikan setiap investasi menciptakan kapasitas baru, menjaga kepentingan masyarakat, dan menghadirkan pertumbuhan ekono

Jakarta (ANTARA) - Dalam Batam Trade Forum yang diselenggarakan Bank Mandiri Batam, saya berdialog dengan para pelaku usaha, pengurus KADIN Batam, kalangan perbankan, dan investor mengenai masa depan Batam sebagai pusat investasi digital Indonesia.

Di tengah optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan yang sangat menarik dari seorang pelaku usaha: "Pak Deputi, dengan masuknya investasi data centre dalam jumlah besar, apakah Batam siap menyediakan listrik dan air tanpa mengurangi kebutuhan masyarakat?"

Bagi saya, pertanyaan tersebut menyentuh inti dari pembangunan Batam ke depan.

Persaingan antarkawasan investasi kini tidak lagi hanya ditentukan oleh insentif fiskal, kemudahan perizinan, atau lokasi strategis. Investor global semakin mempertimbangkan kepastian utilitas, keberlanjutan lingkungan, dan kepastian jangka panjang. Dengan kata lain, masa depan Batam akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjamin energi dan air yang andal.

Saat ini Batam sedang menikmati momentum yang luar biasa. Terdapat 16 proyek data centre (pusat data) dalam berbagai tahapan pengembangan, terdiri atas 2 pusat data yang telah beroperasi, 5 proyek dalam tahap konstruksi, 3 dalam tahap persiapan konstruksi, dan 6 dalam tahap negosiasi. Nilai investasinya melampaui 20 miliar dolar AS, diantaranya oleh DayOne, Equator Gate System Batam, Altiva DC, BW Digital, dan NeutraDC Nxera.

Investasi ini bukan sekadar membangun gedung penyimpanan data. Data centre adalah anchor industri yang akan mendorong pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), cloud computing, keamanan siber, semikonduktor, telekomunikasi, serta industri manufaktur berteknologi tinggi. Efek bergandanya akan dirasakan oleh sektor konstruksi, logistik, fiber optik, jasa profesional, UMKM, hingga peningkatan lapangan kerja berkualitas.

Namun, di balik optimisme tersebut terdapat tantangan besar. Kapasitas pembangkit listrik Batam saat ini sekitar 930 MW, dengan beban puncak sekitar 770 MW. Sementara itu, kebutuhan seluruh proyek data centre diperkirakan mencapai 1–2 GW dalam beberapa tahun mendatang.

Di sektor air, kapasitas produksi Batam sekitar 301.000 meter kubik per hari, sedangkan kebutuhan industri data centre diperkirakan mencapai 20.000–50.000 meter kubik per hari. Apabila tidak diantisipasi sejak awal, pertumbuhan industri berpotensi memberikan tekanan terhadap utilitas yang juga menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

Karena itu, saya meyakini sudah saatnya BP Batam memperkenalkan paradigma baru dalam pengelolaan investasi, yaitu Utility First, Investment Follows. Paradigma ini menempatkan utilitas sebagai prasyarat utama investasi, bukan sekadar konsekuensi setelah investasi masuk.

Implementasinya sederhana tapi strategis. Setiap investor data centre wajib membawa Utility Investment Package sebagai bagian dari komitmen investasinya.

Artinya, selain membangun fasilitas data centre, investor juga diwajibkan berkontribusi membangun gardu induk, jaringan kelistrikan, pembangkit atau skema penyediaan energi, serta Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan sistem water reuse sesuai kebutuhan operasionalnya.

Dengan kebijakan tersebut, setiap tambahan kebutuhan listrik dan air akan dipenuhi melalui kapasitas baru yang dibangun bersama investor. Air waduk tetap diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga dan pelayanan publik, sedangkan kebutuhan industri dipenuhi melalui SWRO (Seawater reverse osmosis) berbasis air laut dan teknologi daur ulang air.

Demikian pula di sektor kelistrikan. Setiap tambahan beban industri harus diimbangi dengan pembangunan pembangkit, gardu induk, dan jaringan baru agar keandalan sistem tetap terjaga. Karena itu, PLN terus menambah kapasitas listrik secara masif.

Baru-baru ini, PLN Batam menandatangani perjanjian penyediaan tenaga listrik berkapasitas 511 MVA untuk mendukung kebutuhan pusat data (data center). Selain itu, PLN menyiapkan potensi tambahan pasokan listrik hingga 2.070 MW untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan investasi pada masa mendatang.

Baca juga: BP Batam dukung pengembangan proyek pusat data skala besar

Baca juga: BP: Batam siap jadi pusat infrastruktur kecerdasan buatan skala global

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.