Jakarta (ANTARA) - Meta menghentikan sementara salah satu langkah monetisasi yang paling kontroversial setelah menuai kritik dari penggunanya.

Perusahaan sebelumnya berencana mengenakan biaya berlangganan sebesar 20 dolar AS per bulan untuk fitur Conversation Focus, sebuah fitur aksesibilitas yang membantu pengguna mendengar percakapan dengan lebih jelas melalui kacamata pintar Ray-Ban Meta, meskipun fitur tersebut sepenuhnya berjalan di perangkat tanpa memerlukan pemrosesan berbasis cloud.

Laman TheTechBuzz, Jumat (24/7) waktu setempat melaporkan, bahwa setelah mendapat penolakan dari pengguna, juru bicara Meta Tyler Yee mengonfirmasi bahwa perusahaan membatalkan rencana tersebut, setidaknya untuk sementara. Namun, Meta menegaskan tetap akan melanjutkan rencana menghadirkan sistem berlangganan untuk fitur-fitur premium lainnya.

Baca juga: Samsung perkenalkan kacamata pintar dengan dukungan fitur AI Gemini

Meta tampaknya belajar bahwa pengguna memiliki batasan tersendiri terhadap biaya berlangganan. Rencana mengenakan biaya 20 dolar AS per bulan untuk Conversation Focus—fitur yang membantu pengguna kacamata pintar mendengar percakapan lebih jelas di lingkungan bising—langsung memicu kritik.

Pasalnya, fitur tersebut sepenuhnya diproses di perangkat tanpa membutuhkan komputasi cloud maupun biaya operasional server yang biasanya menjadi alasan penerapan layanan berlangganan.

Tyler Yee mengatakan bahwa Meta menghentikan sementara penerapan sistem berbayar tersebut.

"Conversation Focus akan tetap tersedia secara gratis melalui Early Access Program bagi para penguji awal," kata Yee.

Baca juga: Meta debutkan kacamata pintar lebih murah, dilego mulai Rp5,3 jutaan

Pernyataan itu menjadi perubahan sikap yang jelas dari rencana monetisasi sebelumnya.

Meski demikian, Meta menegaskan langkah tersebut bukan berarti membatalkan seluruh rencana layanan berlangganan.

"Beberapa fitur premium akan menjadi fitur berlangganan seiring waktu," kata Yee.

Menurut Meta, perusahaan kini akan lebih selektif dalam menentukan fitur mana yang akan dikenakan biaya berlangganan. Pengenaan biaya untuk fitur aksesibilitas yang sepenuhnya berjalan di perangkat, tanpa memanfaatkan server Meta, dinilai telah melewati batas yang dapat diterima pengguna.

Baca juga: Snap luncurkan kacamata pintar Specs dengan harga mulai Rp38 jutaan

Kritik tersebut mencerminkan ketegangan yang lebih luas di industri teknologi konsumen mengenai fitur apa yang layak dikenakan biaya berlangganan. Pengguna semakin sering menolak model langganan untuk fitur yang sudah tertanam pada perangkat keras yang telah mereka beli.

Apple juga pernah menghadapi kritik serupa saat memperkenalkan paket penyimpanan iCloud berbayar, meskipun layanan tersebut setidaknya memerlukan infrastruktur cloud. Sementara itu, upaya Meta mengenakan biaya untuk fitur yang berjalan langsung di perangkat dianggap melampaui batas.

Kacamata pintar Ray-Ban Meta, yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica, merupakan salah satu investasi terbesar Meta di bidang perangkat komputasi yang dapat dikenakan (wearable computing) di luar headset realitas virtual (VR).

Perusahaan telah menginvestasikan berbagai sumber daya untuk menjadikan kacamata tersebut lebih dapat diterima secara sosial sekaligus lebih fungsional, dengan menghadirkan fitur seperti pengambilan foto tanpa menggunakan tangan hingga penerjemahan bahasa secara langsung.

Baca juga: Apple alihkan fokus dari Vision Pro ke pengembangan kacamata pintar

Penambahan pemrosesan audio berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui Conversation Focus dinilai sebagai langkah yang wajar, hingga Meta berencana menjadikannya sebagai fitur berlangganan.

Cepatnya Meta membatalkan rencana tersebut juga dinilai menunjukkan bahwa perusahaan menyadari risiko reputasi apabila dianggap mengambil keuntungan dari fitur aksesibilitas. Langkah ini menjadi perhatian bagi produsen perangkat keras lain yang tengah menyusun strategi layanan berlangganan mereka.

Insiden tersebut juga memperlihatkan tantangan dalam transformasi model bisnis Meta. CEO Meta Mark Zuckerberg selama ini berupaya mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap pendapatan iklan dengan mengembangkan berbagai sumber pendapatan baru, mulai dari toko aplikasi VR hingga layanan untuk kalangan perusahaan. Skema langganan pada kacamata pintar dipandang sebagai salah satu cara menghasilkan pendapatan berulang dari pengguna perangkat keras.

Namun, strategi tersebut dinilai keliru karena menyasar fitur yang tidak tepat.

Baca juga: Acer perkenalkan dua kacamata pintar, tawarkan visual AR dan fitur AI

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.