Jakarta (ANTARA) - Salah satu ungkapan Presiden Prabowo Subianto yang menjadi perbincangan masyarakat dalam beberapa hari terakhir adalah "bajingan."

Presiden Prabowo menyampaikan ungkapan itu dalam peringatan Hari Koperasi pada 12 Juli 2026. Menurut Prabowo, sebagaimana dilansir berbagai media massa, partai politik juga diisi oleh kelompok yang disebutnya bajingan.

Semula kata tersebut bersifat netral. Kata itu digunakan untuk menyebut pengemudi pedati atau gerobak sapi. Keruan saja keberadaan bajingan sangat diperlukan sebagai bagian dari pengangkutan hasil bumi dan logistik.

Untuk memahami makna ungkapan itu, kita perlu menelusuri kerata basa. Bahasa Jawa mengenal kerata basa yang mengartikan suatu kata berdasar suku kata seolah-olah memiliki kepanjangan makna tertentu, meski kadang-kadang bersifat cocoklogi.

Misal, kata guru itu dalam bahasa Jawa maknanya digugu lan ditiru, diambil vokal belakang gu dan ru atau disingkat menjadi guru.

Ungkapan digugu berarti ucapan seorang guru itu dipatuhi dan ditiru, merujuk pada perilaku guru yang menjadi teladan bagi masyarakat.

Contoh lainnya adalah kata wedang (minuman) yang bermakna nggawe kadang atau membuat persaudaraan. Pemberian air minum kepada tamu atau orang yang baru dikenal dapat menjalin persahabatan atau atau persaudaraan.

Karakter bajing

Kerata basa pada kata bajingan adalah bagusing jiwo angen-angening pangeran. Maknanya orang baik yang dicintai Tuhan. Artinya kata itu netral, bukan untuk mengumpat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia masih mencantumkan kata bajingan sebagai pengemudi pedati. Namun, terjadi peyorasi atau proses perubahan makna dan makna yang baru itu lebih rendah atau kurang baik.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.