Jakarta (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan rehabilitasi mangrove menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga produktivitas sektor perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi harus dilakukan berbasis kesesuaian ekologis, agar fungsi ekosistem benar-benar pulih," kata Trenggono dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Menteri Trenggono menghadiri puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup di Denpasar, Bali, Minggu (26/7). Dalam kesempatan itu dilakukan penanaman mangrove di kawasan Ekowisata Batu Lumbang, Denpasar.
Trenggono mengatakan kebutuhan pangan, khususnya sumber protein, akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dunia yang diproyeksikan mencapai 9,66 miliar jiwa pada 2050, termasuk sekitar 320,7 juta penduduk Indonesia.
Baca juga: Menteri LH: Mangrove berpotensi jadi mesin pertumbuhan ekonomi hijau
Menurut dia, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen perikanan utama dengan sekitar 23 persen ekosistem mangrove dunia yang berperan penting dalam menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan.
Namun, berdasarkan data KKP, Indonesia telah kehilangan sekitar 40 persen kawasan mangrove dalam tiga dekade terakhir dengan laju kerusakan mencapai sekitar 52 ribu hektare per tahun.
Selain itu, sekitar 19,26 persen ekosistem mangrove di Indonesia saat ini berada dalam kondisi kritis.
Padahal, lanjutnya, mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung kawasan pesisir, habitat berbagai biota laut, penopang produktivitas perikanan dan mata pencaharian masyarakat, serta penyerap karbon yang berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim.
Baca juga: Industri kehutanan siap kontribusi pengelolaan mangrove berkelanjutan
Dalam mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir, KKP menargetkan perluasan kawasan konservasi laut yang mencakup ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang hingga mencapai 97,5 juta hektare pada 2045.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan dan produktivitas perikanan tangkap.
Selain itu, KKP juga memadukan rehabilitasi mangrove dengan pengembangan kawasan budi daya perikanan melalui program revitalisasi tambak kurang produktif di Pantai Utara (Pantura) Jawa tahap pertama seluas 14 ribu hektare.
Program tersebut ditujukan untuk memulihkan ekosistem pesisir, meningkatkan produksi perikanan, menyerap tenaga kerja, dan mendukung ketahanan pangan.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.