Pertemuan ini menjadi kesempatan yang sangat strategis untuk membahas bagaimana sistem pendidikan keperawatan di berbagai negara dapat semakin selaras, memiliki standar yang sebanding...

Depok (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) menyatakan kebutuhan tenaga kerja perawat terus meningkat di berbagai negara untuk memberikan layanan kesehatan terbaik pada masyarakat.

Rektor UI Heri Hermansyah di Depok, Jawa Barat, Senin, mengatakan persoalan utama yang dihadapi bukan hanya kekurangan tenaga perawat pada sejumlah negara, melainkan juga belum terhubungnya kebutuhan tersebut dengan negara yang memiliki surplus lulusan.

Untuk itu UI menggelar Annual Meeting Southeast and East Asian Nursing Education and Research Network (SEANERN) 2026 di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI pada 24 Juli lalu.

Sekitar 17 delegasi dari 11 negara dan wilayah di Asia Tenggara serta Asia Timur akan menyusun langkah bersama memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengembangan profesi keperawatan di kawasan.

Baca juga: Malaysia pertimbangkan menambah perawat Indonesia ke negaranya

Rektor menilai harmonisasi standar pendidikan menjadi salah satu kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Selain kompetensi klinis, lulusan perlu dipersiapkan dari aspek bahasa dan pemahaman budaya agar mampu memenuhi persyaratan profesi di berbagai negara.

“Pertemuan ini menjadi kesempatan yang sangat strategis untuk membahas bagaimana sistem pendidikan keperawatan di berbagai negara dapat semakin selaras, memiliki standar yang sebanding, serta memungkinkan adanya pengakuan terhadap pendidikan maupun sertifikasi profesi,” kata Heri.

Heri menilai SEANERN dapat menjadi wadah strategis untuk mendorong harmonisasi standar pendidikan dan pengembangan mekanisme mutual recognition, sehingga lulusan keperawatan memiliki peluang lebih luas untuk berkontribusi di berbagai negara.

SEANERN merupakan jejaring pendidikan dan riset keperawatan yang mempertemukan institusi pendidikan tinggi di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Melalui jejaring ini para anggotanya mengembangkan kolaborasi riset, menyelaraskan kurikulum, dan memperkuat mutu pendidikan keperawatan di kawasan.

Baca juga: Dubes Abdul dorong Indonesia isi kebutuhan perawat di Jerman

Chair of SEANERN, Associate Professor Dr. Shefaly Shorey dari National University of Singapore (NUS) mengatakan bahwa keberagaman sistem pendidikan dan kapasitas setiap negara justru menjadi kekuatan utama jejaring tersebut.

“Ketika para pemimpin pendidikan keperawatan berkumpul, kita dapat saling berbagi tantangan, hambatan, maupun praktik terbaik. Itulah kekuatan utama SEANERN,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi harus diwujudkan melalui riset dan publikasi ilmiah yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu keperawatan.

Salah satu capaian SEANERN dalam dua tahun terakhir adalah penyelesaian riset internasional mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan keperawatan yang melibatkan berbagai negara anggota.

Saat ini hasil penelitian tersebut tengah dipersiapkan untuk diterbitkan di jurnal internasional bereputasi.

Baca juga: Apa itu pendidikan profesi perawat? Berapa gajinya di Indonesia?

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.