Jakarta (ANTARA) - Apple tengah bersiap memasuki pasar kacamata pintar, namun, perusahaan itu menghadapi tantangan yang sebelumnya menjadi batu sandungan bagi para pesaingnya, yakni meyakinkan masyarakat bahwa kacamata berkamera tidak akan mengubah setiap penggunanya menjadi "alat pengawas berjalan".

Seiring Apple dikabarkan mempersiapkan kacamata pintar pertamanya untuk konsumen, tim internal perusahaan disebut sedang mencari cara menghadirkan perlindungan privasi yang lebih baik dibandingkan yang telah diterapkan Meta maupun perusahaan lain, lapor laman The Tech Buzz, Minggu (26/7) waktu setempat.

Hal ini menjadi faktor penting bagi Apple, yang selama ini membangun citra sebagai perusahaan yang mengutamakan privasi pengguna.

Proyek tersebut membuat Apple harus berhadapan langsung dengan isu privasi yang telah membayangi kategori kacamata pintar sejak Google menghentikan proyek Google Glass lebih dari satu dekade lalu. Tantangannya bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga penerimaan masyarakat.

Saat Meta meluncurkan kacamata pintar Ray-Ban pada 2021, perusahaan itu menambahkan lampu indikator LED kecil untuk memberi tahu ketika perangkat sedang merekam.

Baca juga: Dikritik pengguna, Meta tunda rencana berlangganan kacamata pintarnya

Namun, para pegiat privasi menilai langkah tersebut belum memadai karena lampunya sulit terlihat pada siang hari, sementara orang di sekitar tidak memiliki cara mengetahui apakah mereka sedang direkam hingga semuanya terlambat.

Meta memang telah menjual lebih dari satu juta unit kacamata tersebut, tetapi perdebatan mengenai privasi belum mereda.

Masuknya Apple ke pasar ini menjadi perhatian karena selama bertahun-tahun perusahaan memosisikan diri sebagai raksasa teknologi yang mengutamakan privasi, termasuk melalui kampanye "What happens on your iPhone, stays on your iPhone". Kini, Apple justru bersiap menghadirkan kamera yang dikenakan langsung di wajah pengguna.

Berdasarkan laporan rantai pasok dan dokumen paten, Apple telah menguji berbagai prototipe kacamata pintar selama sedikitnya tiga tahun.

Sejumlah sumber menyebut Apple mengeksplorasi berbagai solusi, mulai dari penutup fisik yang menutupi kamera saat tidak digunakan hingga isyarat suara yang memberi tahu orang di sekitar ketika perekaman dimulai.

Namun, setiap solusi memiliki kekurangan. Penutup fisik menambah komponen yang berpotensi rusak, sedangkan peringatan suara dapat mengganggu di tempat yang membutuhkan ketenangan seperti perpustakaan atau kantor. Selain itu, fitur privasi yang dapat dinonaktifkan pengguna berpotensi dimatikan oleh pihak yang berniat menyalahgunakannya.

Taruhannya dinilai lebih besar bagi Apple dibandingkan Meta maupun Snap yang pernah meluncurkan Spectacles. Selama bertahun-tahun Apple membangun kepercayaan pelanggan melalui fitur seperti App Tracking Transparency yang memungkinkan pengguna mencegah aplikasi melacak aktivitas mereka di internet.

Baca juga: Samsung perkenalkan kacamata pintar dengan dukungan fitur AI Gemini

Jika kacamata pintarnya justru dianggap sebagai perangkat pengawasan, reputasi tersebut dapat terdampak.

Pengamat industri menilai pengalaman Apple mengembangkan Vision Pro dapat menjadi acuan. Perangkat itu memiliki layar eksternal yang menampilkan representasi mata pengguna melalui fitur EyeSight agar interaksi terasa lebih alami. Konsep serupa berpeluang diterapkan pada kacamata pintar, meski mengecilkan teknologi tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Apple juga harus menghadapi regulasi privasi yang kini jauh lebih ketat dibandingkan saat Google Glass diperkenalkan pada 2013. Aturan seperti General Data Protection Regulation (GDPR) di Uni Eropa serta regulasi serupa di California dan wilayah lainnya memberikan sanksi serius terhadap perekaman atau pengumpulan data tanpa izin.

Di sisi lain, Meta terus mengembangkan kacamata pintarnya bersama Ray-Ban dengan menambahkan fitur kecerdasan buatan (AI) dan meningkatkan kualitas kamera di setiap generasi.

Jika Apple mampu menghadirkan solusi privasi yang diterima regulator dan konsumen, hal itu dapat memperkuat legitimasi kategori kacamata pintar dan mendorong inovasi baru.

Meski demikian, masih ada kemungkinan bahwa secanggih apa pun teknologi yang dikembangkan, rasa tidak nyaman masyarakat terhadap kacamata berkamera tetap sulit dihilangkan karena persoalannya berkaitan dengan norma sosial.

Keberhasilan atau kegagalan Apple dalam menjawab tantangan ini diyakini tidak hanya akan menentukan strategi perangkat wearable perusahaan, tetapi juga masa depan industri kacamata berkamera secara keseluruhan.

Baca juga: Meta debutkan kacamata pintar lebih murah, dilego mulai Rp5,3 jutaan

Baca juga: Snap luncurkan kacamata pintar Specs dengan harga mulai Rp38 jutaan

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.