Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) menghadirkan Seto Mulyadi atau Kak Seto, tokoh pemerhati anak untuk memberikan motivasi dan membangkitkan harapan 37 anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Jakarta.

Kak Seto mengatakan setiap anak memiliki keunikan yang tidak dapat dibandingkan dengan siapapun. Apapun latar belakang yang dimiliki anak-anak tersebut tersebut tidak boleh menghapus keyakinan terhadap potensi dirinya.

"Semua anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat. Anak binaan tetap anak-anak Indonesia yang harus dihargai, dihormati, dan percaya diri menyongsong masa depannya," katanya, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu menyatakan terkesan dengan suasana pembinaan di LPKA Jakarta.

Menurutnya, apa yang dia lihat, anak-anak binaan tetap mampu mengekspresikan keceriaan melalui berbagai aktivitas yang dijalani bersama.

"Saya melihat LPKA ini ramah anak. Dari wajah-wajah mereka tercermin bahwa mereka dibina, diberi motivasi, diberi semangat, dan diasuh dengan cara yang baik sehingga tetap memiliki rasa percaya diri. Itu terlihat ketika mereka bergerak, bernyanyi, dan bergembira bersama," ujarnya.

Ditjenpas bekerja sama dengan Pokja Stop Stigma (Sinergi Sejuta Tangan) yang terdiri dari Espas Indonesia, Ikatan Bimbingan Konseling Sekolah, Sahabat Anak Indonesia, dan Jendela Pendidikan Nusantara menggelar kegiatan bertajuk "Kakak Bercerita Bersama Kak Seto", Senin (27/7).

Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali menemukan keyakinan bahwa masa depan mereka masih terbuka.

Baca juga: Kak Seto ajak anak-anak berani miliki cita-cita

Dalam kegiatan tersebut, Kak Seto dengan gaya khas yang hangat dan penuh canda mengajak anak-anak menyelami perjalanan hidupnya.

Pemeran Si Komo itu bercerita tentang masa kecil hingga masa mudanya yang tidak selalu berjalan mulus. Berulang kali mengalami kegagalan, menghadapi penolakan, dan jatuh bangun sebelum akhirnya meraih keberhasilan.

Dari kisah itu, ia ingin tunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan menuju masa depan.

"Bukan hanya berani sukses, tetapi anak-anak juga harus berani gagal untuk kemudian bangkit kembali menjadi lebih hebat di masa depan," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kak Seto juga mengajak seluruh masyarakat, terutama para orang tua untuk membuka kembali pintu hati bagi anak-anak yang tengah jalani pembinaan dengan penerimaan.

"Mereka (anak binaan) tetap memiliki masa depan. Semoga kelak mereka pulang dengan penuh rasa syukur karena telah dibina negara dengan baik dan mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik," pesan Kak Seto.

Senada dengan Kak Seto, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Daerah Khusus Jakarta Wachid Wibowo mengingatkan bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan maupun kesalahan dalam hidup. Yang membedakan adalah kemauan untuk berubah.

"Kemarin mungkin ada pelanggaran hukum yang menyebabkan anak-anak berada di sini. Hari ini mulailah bertobat, gunakan waktu selama menjalani pembinaan untuk merenung, belajar, dan memperbaiki diri," ujarnya.

"Kesempatan kalian masih panjang. Negara membutuhkan kalian, keluarga juga membutuhkan kalian," sambung Wachid.

Ia mengajak seluruh anak binaan LPKA Jakarta menanamkan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta memanfaatkan setiap program pembinaan sebagai bekal menjalani kehidupan setelah kembali ke masyarakat.

Baca juga: KSP tegaskan negara hadir lindungi hak semua anak binaan di lapas

Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, yang menyampaikan pesan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Sehingga sinergi antara Ditjenpas, pemerhati anak, dan pemerintah dapat memastikan anak binaan bisa terus belajar dan mengembangkan potensinya.

Pada kesempatan tersebut, Anak Binaan juga menerima donasi buku cerita yang diharapkan dapat menumbuhkan minat baca sekaligus membuka jendela pengetahuan baru. Sebuah komputer jinjing (laptop) juga diserahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran agar proses pendidikan di LPKA semakin optimal.

Keceriaan anak binaan LPKA Jakarta terus berlanjut selama kegiatan, menikmati nasi cadong, sambil diselingi permainan dan lagu-lagu yang mencairkan suasana tanpa sekat.

Juru Bicara Ditjenpas Rika Aprianti menuturkan bahwa dibalik berbagai aktivitas sederhana itu, tersimpan pesan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan kedua.

Ia menekankan pembinaan bukan sekadar menjalani masa hukuman, melainkan proses memulihkan harapan, membangun karakter, dan menyiapkan mereka kembali menjadi bagian dari masyarakat.

"Di balik tembok LPKA, masih ada mimpi yang terus dijaga, potensi yang terus dipupuk, dan masa depan yang layak diperjuangkan," kata Rika.

Baca juga: Kak Seto: Orang tua perlu sering diskusi dengan anak cegah perundungan

Baca juga: Kak Seto usul Jakarta punya Seksi Perlindungan Anak tingkat RT

Baca juga: Kementerian Imipas bina 1.733 anak di seluruh lapas Indonesia

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.