Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur meyakini pendidikan vokasi menjadi investasi strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor furnitur dan pengolahan kayu.

Abdul Sobur dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Selasa menyampaikan, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat industri mebel dan kerajinan dunia, mulai dari kekayaan hutan yang dikelola secara lestari, ketersediaan bahan baku, kreativitas desainer, keterampilan perajin, hingga pengalaman pelaku usaha dalam menembus pasar ekspor.

"Pendidikan vokasi merupakan investasi strategis dalam membangun masa depan industri nasional," katanya.

Menurutnya, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi menjadi kunci dalam menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompetitif.

Pasar internasional kini menuntut produk dengan kualitas konsisten, kepastian pasokan, legalitas bahan baku, keterlacakan (traceability), keberlanjutan, inovasi, serta kemampuan adaptasi industri.

Oleh karena itu, menurutnya, penyelenggaraan Indonesia Furniture & Woodworking Industry Conference (IFWIC) 2026 pada hari ini di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal, Jateng, menjadi contoh nyata kolaborasi dalam memperkuat vokasi sekaligus daya saing industri.

Abdul Sobur mengapresiasi peran Polifurneka yang tidak hanya menjadi tuan rumah IFWIC 2026, tetapi juga menunjukkan pentingnya pendidikan vokasi dalam membangun masa depan industri nasional.

"Kampus vokasi tidak hanya mencetak lulusan, melainkan menyiapkan generasi yang siap berkarya, berinovasi, dan menjawab kebutuhan industri," katanya.

Ia menegaskan industri yang maju selalu bertumpu pada kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, mesin, teknologi, dan modal dapat diperoleh, tetapi integritas, disiplin, kreativitas, kepemimpinan, serta budaya kerja hanya dapat dibangun melalui pendidikan dan pembinaan berkelanjutan.

Ia optimistis Indonesia mampu memperkuat posisi sebagai salah satu pusat industri furnitur dan pengolahan kayu dunia dengan dukungan sumber daya alam, budaya, kreativitas, serta generasi muda yang siap melanjutkan pembangunan industri.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperluas akses kerja lulusan vokasi ke sektor industri melalui penguatan sistem pendidikan ganda (dual system) yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Doddy Rahadi di Jakarta, Selasa (21/7) menyampaikan penguatan kemitraan dengan industri menjadi strategi utama untuk meningkatkan penyerapan lulusan vokasi agar mampu langsung masuk ke rantai pasok manufaktur.

Ia menambahkan, pihaknya terus memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri melalui pemantapan sistem pendidikan ganda (dual system), yang termasuk pelatihan bagi instruktur tempat kerja (In-Company Trainer), penguatan Pusat Pengembangan Karir (Career Development Center), serta digitalisasi layanan vokasi.

Transformasi tersebut sejalan dengan pembangunan SDM industri yang harus mampu menjawab kebutuhan industri masa depan, termasuk digitalisasi manufaktur, pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, ekonomi sirkular dan industri hijau.

Baca juga: Purbaya kaji insentif pembiayaan furnitur lewat LPEI

Baca juga: Industri mebel dorong penguatan Made in Indonesia dan proteksi pasar

Baca juga: HIMKI optimistis industri furnitur jadi pilar pertumbuhan inklusif ‎

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.