Jakarta (ANTARA) - Perusahaan teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang menaungi GoPay dan Gojek, membuktikan kekuatan ekosistem perusahaannya lewat kinerja keuangan kuartal II-2026 yang memuaskan.
Pasca satu bulan skema bagi hasil komisi 8 persen diterapkan, GoTo menunjukkan bisnis yang tetap stabil dengan mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar di kuartal kedua 2026.
“Pada 1 Juli 2026, struktur komisi baru mulai diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih Grup,” ujar Direktur Utama GoTo Hans Patuwo dari siaran persnya, Rabu.
Baca juga: GoTo mencetak laba bersih Rp607,5 miliar di semester I-2026
Membahas secara lebih spesifik kinerja bisnis GoTo, perusahaan sebenarnya melanjutkan kinerja positif di kuartal II-2026, setelah sebelumnya meraih laba bersih pertama kali di kuartal I-2026 sebesar Rp171 miliar.
GoTo juga mencatatkan peningkatan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 83 persen secara tahunan, menjadi Rp164 triliun.
Sementara itu pendapatan bersih GoTo di kuartal ini meningkat 31 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp5,7 triliun.
Pasca satu bulan sejak kebijakan komisi 8 persen diterapkan, GoTo mengungkapkan perusahaan harus melakukan beberapa penyesuaian. Meski begitu Hans memastikan kondisi bisnis perusahaan tetap harus stabil.
Baca juga: Analis patok target harga GOTO hingga Rp78
Dampak dari perubahan komisi ini menurut Hans akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga 2026.
Dalam penyesuaian perusahaan, implementasi komisi 8 persen membuat GoTo harus menurunkan pedoman kinerja layanan On-Demand services untuk setahun penuh menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun.
Meski demikian perseroan tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun.
Hal ini ditopang oleh kinerja Fintech atau GoPay yang unggul dengan pedoman kinerja setahun penuh yang dinaikkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.
Baca juga: Kemnaker-GoTo perkuat literasi digital bagi TKM sektor kuliner
“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” ujar Hans.
Hans memastikan pencapaian yang diraih perseroan akan kembali diinvestasikan ke ekosistem GoTo untuk mendukung mitra driver melalui berbagai Program Apresiasi Mitra karena kesejahteraan mitra tetap menjadi prioritas utama bagi GoTo.
“Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa hingga Umrah gratis. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” tutup Hans.
Baca juga: GoTo dukung penuh arahan pemerintah terkait pembagian komisi ojol
Baca juga: Perpres 27/2026, Gojek pastikan tak ada peningkatan harga GoRide
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.