Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), Agung, menciptakan robot catur berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama Smart Chess yang mengintegrasikan lengan robot industri, kamera, dan AI sebagai media bermain dan riset robotika.
"Fokus tugas akhir ini adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan robot industri. Saat ini memang diterapkan pada permainan catur sebagai media latihan dan bermain, tetapi harapannya konsep ini bisa dikembangkan untuk kebutuhan industri. Dengan AI, robot nantinya dapat menjalankan instruksi yang lebih kompleks sehingga pemanfaatan robot industri bisa menjadi lebih efisien," ujarnya di Surabaya, Jumat.
Agung menjelaskan, catur dipilih karena memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Menurut dia, jika robot mampu menjalankan instruksi rumit dalam permainan catur, konsep serupa berpotensi diterapkan pada proses industri yang membutuhkan pengambilan keputusan berbasis AI.
Smart Chess menggunakan kamera webcam untuk mengenali posisi bidak di papan catur. Informasi dari kamera diproses AI untuk menentukan langkah terbaik, kemudian lengan robot memindahkan bidak secara otomatis.
Saat ini, Smart Chess masih dikembangkan dalam skenario pertandingan manusia melawan robot. Ke depan, sistem tersebut dapat disempurnakan, termasuk kemungkinan pertandingan robot melawan robot serta penambahan fitur kecerdasan lainnya.
Baca juga: BPOM dan Ubaya perkuat kolaborasi riset dan industri farmasi
"Selain digunakan untuk bermain, Smart Chess juga memiliki fitur latihan, seperti mengulang langkah (undo), menyusun ulang posisi bidak sesuai kebutuhan, hingga membuat berbagai skenario latihan, misalnya mencari langkah skakmat dalam beberapa langkah atau mempelajari posisi tertentu," ujarnya.
Ide pengembangan Smart Chess berangkat dari hobi Agung sebagai atlet catur. Ia menilai catur merupakan permainan papan yang paling dikenal masyarakat sekaligus memiliki kompleksitas tinggi sehingga cocok menjadi media untuk menunjukkan kemampuan AI dalam mengendalikan robot.
"Selama pengujian di laboratorium, robot mencatat tingkat kemenangan hingga 100 persen ketika menggunakan AI level grandmaster. Namun, pada sejumlah demonstrasi di luar laboratorium, robot masih sempat dikalahkan pemain manusia sehingga tingkat keberhasilannya berada di kisaran 97–98 persen," paparnya.
Agung mengakui Smart Chess belum dilengkapi fitur pertandingan profesional, seperti pendeteksian kecurangan maupun pengulangan langkah (threefold repetition).
Sementara itu, pecatur Anugerah Prawira mengaku memperoleh pengalaman baru saat bermain melawan Smart Chess karena tetap dapat memegang bidak secara langsung, sementara lawannya adalah robot yang digerakkan AI.
"Inovasi ini menarik karena memberikan pengalaman bermain yang berbeda. Kita tetap bermain di papan catur seperti pertandingan biasa, tetapi lawannya adalah robot yang mampu merespons langkah pemain. Saya melihat teknologi seperti ini sangat baik sebagai media latihan sekaligus memperkenalkan penerapan AI dan robotika kepada masyarakat," katanya.
Baca juga: Mahasiswa Ubaya ciptakan snack sehat dari daun mangga dan kulit kacang
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.