data tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat, termasuk memetakan kebutuhan rantai pasok berbagai komoditas.

Cirebon (ANTARA) - Rompi hitam bertuliskan “Petugas Sensus Ekonomi” menjadi penanda kehadiran negara di antara deretan rumah di pelosok Kampung Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Untuk sampai ke rumah warga, Widi Nugroho (42), petugas sensus, harus lebih dulu menaklukkan jalan sempit dan terjal.

Pada Selasa (28/7), ANTARA mengikuti langkah Widi sebagai petugas pencacah lapangan Sensus Ekonomi 2026. Ia mendapat amanah dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon untuk menghimpun data yang nantinya menjadi pijakan negara dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan.

Riwayat penyakit jantung membuatnya harus mengukur kemampuan fisik. Sepeda motor pun tak selalu dapat menjangkau permukiman, sehingga di beberapa titik perjalanan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Langkah sang petugas akhirnya berlabuh di rumah Jaenab (51), yang menyambut kedatangannya dengan senyum ramah. Jarak antara negara dan warganya melebur di selembar tikar plastik biru yang digelar seadanya.

Tak berselang lama, ia mengeluarkan ponselnya. Pada layar gawai itu terpasang FASIH, aplikasi digital yang digunakan petugas untuk metode wawancara tatap muka.

Widi tidak langsung membuka daftar pertanyaan. Ia mengawali percakapan dengan menanyakan kabar dan aktivitas sehari-hari.

Akrab

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.