Makassar (ANTARA) - Sore itu, puluhan anak berlarian di Taman Macan, salah satu taman kota di Makassar. Sebagian bermain ayunan, sebagian lagi bersepeda kecil mengelilingi jalur pejalan kaki. Namun, suasana yang ceria itu tercemari dengan terpaan asap rokok.
Tampak beberapa meter dari arena bermain itu, kepulan asap rokok mengepul dari tangan seorang pria yang sedang berbincang dengan rekannya. Sementara di sudut lainnya, seorang remaja mengisap rokok elektronik atau vape dengan santai.
Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang langka. Di berbagai ruang publik, anak-anak masih hidup berdampingan dengan asap rokok maupun uap vape. Mereka menjadi perokok pasif tanpa pernah memilihnya.
Kondisi tersebut sangat ironis, karena ketika Indonesia terus menggaungkan pentingnya perlindungan anak di setiap momen Hari Anak Nasional yang diisi dengan berbagai kegiatan yang mengangkat hak anak atas pendidikan, kesehatan, perlindungan dari kekerasan, hingga pemenuhan gizi.
Namun, ancaman dari rokok dan vape kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya dapat mengikuti anak hingga dewasa.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah perokok yang sangat tinggi. Lebih memprihatinkan lagi, usia pertama kali merokok terus bergeser ke kelompok usia yang lebih muda. Berbagai survei nasional menunjukkan bahwa masih banyak anak dan remaja yang mulai mencoba rokok sebelum berusia 18 tahun.
Bahkan, salah satu lembaga bernama Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) Foundation baru-baru ini meluncurkan hasil survei konsumsi rokok pada anak-anak (2025). Hasil survei tersebut menunjukkan sekitar 2,03 juta anak Indonesia tersandera oleh konsumsi rokok sebanyak 4,14 miliar batang dan menghabiskan anggaran sebesar Rp4,5 triliun pada 2025.
Hasil studi RUKKI itu dinilai rasional dan faktual. Sebab jika merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi perokok anak di Indonesia mencapai 7,4 persen atau mencapai 6 juta anak di Indonesia.
Permasalahan lainnya, dalam beberapa tahun terakhir, tren penggunaan vape di kalangan remaja juga mengalami peningkatan, sehingga menghadirkan tantangan baru dalam pengendalian konsumsi produk tembakau, sekaligus vape.
Banyak remaja menganggap vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Anggapan itu diperkuat oleh desain produk yang modern, pilihan rasa buah, kemasan menarik, hingga promosi melalui media sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vape tetap mengandung nikotin, zat adiktif yang dapat memengaruhi perkembangan otak remaja, menurunkan kemampuan konsentrasi, mengganggu proses belajar, serta meningkatkan risiko kecanduan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.