Pemugaran Semarang Tawang lebih serius dibandingkan renovasi yang sekadar kosmetik
Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengelola lebih dari 600 bangunan berstatus cagar budaya di seluruh wilayah Indonesia, dan 120 di antaranya sedang dipugar. Stasiun Semarang Tawang, yang diresmikan kembali pada Kamis (23/7), setelah 330 hari pengerjaan, hanyalah satu dari daftar tersebut.
Stasiun Semarang Tawang yang pertama tuntas dan jadi contoh paling konkret tentang seperti apa arah proyek-proyek pemugaran stasiun-stasiun berikutnya, yaitu Jakarta Kota, Tanjung Priuk, dan Bogor, yang akan menyusul tahun ini juga.
Bangunan berusia 112 tahun rancangan arsitek Belanda Sloth-Blauwboer itu berdiri di lahan 27.310 meter persegi, dengan luas bangunan utama sekitar 5.300 meter persegi. Pengerjaan pemugaran stasiun itu dibagi dua tahap, fasad depan dan hall utama lebih dulu, baru kemudian sisi barat dan timur.
Karena berstatus cagar budaya, Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010 mengamanahkan bahwa setiap detail, mulai dari bentuk jendela sampai tata ruang publik, harus mengikuti dokumentasi sejarah, bukan selera desain hari ini. Aturan itu juga yang membuat prosesnya lambat dan mahal dibanding sekadar mengecat ulang gedung tua.
Salah satu bagian yang paling teknis dari pekerjaan ini justru tidak terlihat dari foto-foto seremoni: sistem drainase.
Semarang bagian utara, tempat Tawang berdiri, dikenal sebagai kawasan yang rutin terendam banjir rob. Bukan kebetulan kalau revitalisasi ini menyertakan perbaikan saluran air, karena percuma mengembalikan fasad seindah apa pun kalau lantai stasiunnya tetap tergenang tiap air laut pasang.
Pemugaran Semarang Tawang lebih serius dibandingkan renovasi yang sekadar kosmetik.
Sejarah Tawang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.