Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kolaborasi antara pemilik kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) global dengan kreator lokal dinilai membuka peluang bisnis baru bagi pelaku ekonomi kreatif melalui skema lisensi resmi yang memungkinkan kreator memonetisasi karya mereka.

Irene mengatakan model kolaborasi yang dilakukan di acara HoYo FEST melalui produk berlisensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi kreatif nasional, khususnya pada subsektor gim, kriya, ilustrasi, dan desain sekaligus memperluas akses ke pasar yang lebih luas.

"HoYo FEST menunjukkan bahwa kolaborasi antara IP global dan kreator lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang saling menguntungkan. Inisiatif seperti ini membuka ruang yang lebih luas bagi talenta Indonesia untuk menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai komersial sekaligus menjangkau pasar yang lebih besar," kata Irene dalam keterangan yang diterima Senin.

Menurut Irene, pemanfaatan IP tidak lagi terbatas pada industri gim semata, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang melibatkan berbagai subsektor kreatif. Melalui kolaborasi tersebut, kreator lokal memperoleh kesempatan memproduksi karya kriya dan merchandise resmi berbasis karakter gim global, sehingga dapat meningkatkan daya saing sekaligus nilai jual produknya.

Dalam HoYo FEST 2026, sebanyak 71 pegiat ekonomi kreatif terlibat dalam Artist Alley yang menghadirkan sekitar 50 booth. Produk-produk yang dipamerkan merupakan hasil kolaborasi kreator Indonesia dengan IP milik HoYoverse melalui skema lisensi resmi.

Irene menilai pendekatan tersebut menjadi terobosan penting karena memberikan ruang bagi kreator untuk memperoleh manfaat ekonomi dari karya mereka tanpa kehilangan hak kepemilikan atas hasil kreativitas yang dikembangkan.

Ia berharap model kerja sama serupa dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak pemilik IP internasional. Langkah tersebut diyakini mampu mempercepat pertumbuhan industri kreatif nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di kawasan.

Associate Brand Director HoYoverse Indonesia/COGNOSPHERE PTE. LTD Aswin Atonie mengatakan HoYo FEST 2026 telah menarik lebih dari 9.500 pengunjung sejak dibuka pada 30 Juli. Menurut dia, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat tumbuh dari kolaborasi antara industri gim, komunitas, dan kreator lokal.

"Kami berharap sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas seperti ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak talenta kreatif Indonesia yang memiliki kesempatan untuk berkarya, berkembang, dan dikenal di tingkat yang lebih luas," ujar Aswin.

Selain menjadi ajang bagi komunitas penggemar gim, HoYo FEST juga menjadi ruang promosi bagi kreator lokal untuk memperkenalkan produk kreatif mereka kepada pasar yang lebih luas.

Pemerintah menilai kolaborasi berbasis lisensi IP dapat menjadi salah satu model pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan karena mendorong lahirnya peluang usaha baru sekaligus memperkuat ekosistem bisnis kreatif di Indonesia.

Baca juga: Wamenekraf nilai HoYo Fest 2026 bisa perkuat kreator lokal naik kelas

Baca juga: Kemenekraf: Pemahaman nilai IP bisa menambah daya saing konten lokal

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.