Masker bagi warga terdampak serta dukungan logistik bagi personel pemadam menjadi kebutuhan mendesak yang dibutuhkan di lapangan

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoordinasikan penanganan dampak kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang menimbulkan paparan asap tebal ke permukiman warga.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, mengatakan sebaran asap dari kebakaran TPA yang terletak di Desa Troketon, Kecamatan Pedan, tersebut berdampak langsung pada 473 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 1.485 jiwa.

Warga terdampak sebaran asap dari sampah terbakar tersebut dominan bermukim di dua wilayah terdekat yakni Desa Kaligawe dan Desa Kalangan.

Baca juga: BPBD Klaten siaga pendinginan usai pemadaman TPA Troketon

"Peristiwa kebakaran melanda timbunan sampah berketinggian sekitar 10 meter berstruktur terasering, sehingga menyebarkan asap tebal ke kawasan permukiman," kata dia.

Abdul menjelaskan insiden kebakaran tersebut melanda area sampah seluas 1.000 meter persegi pada Sabtu (1/8) siang.

Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Klaten langsung menerjunkan armada pemadam ke lokasi kejadian guna melakukan kaji cepat dan isolasi titik api.

Operasi pemadaman intensif ini juga melibatkan kolaborasi personil Damkar Klaten, Damkar Sukoharjo, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Palang Merah Indonesia (PMI), serta jajaran organisasi relawan setempat.

Baca juga: KLH instruksikan penyiraman TPA dan sekat kanal gambut

Berkat respons cepat tim gabungan di lapangan, kata dia, kobaran api yang membakar tumpukan sampah TPA Troketon berhasil dipadamkan secara total pada Minggu (2/8).

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mencatat kebutuhan mendesak saat ini berupa masker yang dibutuhkan untuk mencegah gangguan pernapasan serta penyediaan dukungan logistik bagi personel pemadam.

"Masker bagi warga terdampak serta dukungan logistik bagi personel pemadam menjadi kebutuhan mendesak yang dibutuhkan di lapangan," kata Abdul Muhari.

Baca juga: Peneliti BRIN soroti pendekatan teknologi untuk hindari kebakaran TPA

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.