Moskow (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares akan menuntut solidaritas dari negara-negara Uni Eropa terkait krisis migrasi di Ceuta.

"Tentu saja, kami akan menuntut solidaritas dari semua negara anggota Uni Eropa. Tidak ada Uni Eropa tanpa solidaritas dan mereka yang tidak menerima hal ini berarti bekerja melawan Eropa," kata Menlu Albares dalam wawancara dengan saluran TV RTVE, Senin.

Albares mengingatkan bahwa dua kota perbatasan Ceuta dan Melilla bukan hanya perbatasan Spanyol, tetapi juga perbatasan sebelah selatan Uni Eropa.

"Ketika terjadi krisis migrasi berulang yang tidak dapat ditangani oleh Pemerintah Italia di Lampedusa, Spanyol selalu menunjukkan solidaritas, baik secara politik maupun praktis; dan inilah tepatnya yang kami inginkan dari negara-negara Eropa lainnya," kata Albares.

Pada akhir Juli, Ceuta, kota otonom dan enklave Spanyol yang terletak di pesisir Afrika Utara, mengalami arus masuk migran dalam jumlah besar dari negara tetangga, Maroko.

Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan pasukan militer ke wilayah tersebut dalam upaya mencegah penyeberangan ilegal.

Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas mengumumkan pada Jumat (31/7) bahwa sekitar 60.000 orang telah memasuki Ceuta dalam kurun waktu 24 jam.

Jumlah penduduk di kota tersebut saat ini mencapai sekitar 85.000 jiwa.

Sejumlah perwakilan Uni Eropa sebelumnya telah mengkritik kebijakan migrasi Spanyol. Pada Jumat (31/7), pihak berwenang dari beberapa negara Uni Eropa, termasuk Italia, Republik Ceko, Finlandia, dan Denmark, menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol di kawasan Schengen di tengah masuknya gelombang arus imigran dari Maroko ke Ceuta.

Sumber: Sputnik

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.