Yogyakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan melimpahnya pasokan komoditas pangan mempengaruhi penurunan harga barang atau deflasi provinsi ini pada Juli 2026 yang sebesar 0,31 persen secara month to month.

"Deflasi pada Juli 2026 terutama dipengaruhi melimpahnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura yang mendorong penurunan harga di tingkat konsumen," kata Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih dalam keterangan di Yogyakarta, Senin.

Deflasi pada Juli 2026 merupakan deflasi kedua di DIY sepanjang 2026 yang terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 1,39 persen dengan andil -0,39 persen.

"Penurunan harga komoditas pangan seperti cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat menjadi faktor utama penyebab deflasi, seiring melimpahnya pasokan hasil panen dari sejumlah daerah," katanya.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil deflasi akibat turunnya harga emas perhiasan yang mengikuti tren penurunan harga emas dunia.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran masih mengalami inflasi, terutama kelompok transportasi yang dipengaruhi kenaikan harga BBM secara rata-rata selama Juli 2026, serta kelompok pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Komoditas seperti wortel, ketimun, dan bawang putih juga turut memberikan andil inflasi di DIY pada bulan Juli 2026.

"Meskipun secara bulanan terjadi deflasi, tingkat inflasi tahunan DIY masih terjaga pada level 2,54 persen, yang menunjukkan perkembangan harga secara umum tetap berada dalam kisaran yang relatif terkendali," katanya.

Baca juga: BPS Bali: Panen melimpah dan permintaan tinggi buat makanan deflasi

Baca juga: Musim panen tekan harga hortikultura bikin deflasi 0,35 persen di NTB

Ia menjelaskan, secara tahunan, inflasi DIY yang 2,54 persen terutama disumbang kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,90 persen, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.

Selanjutnya, kelompok transportasi memberi andil 0,58 persen, terutama akibat kenaikan harga BBM, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 0,37 persen, dengan komoditas utama penyumbang inflasi berupa beras, minyak goreng.

Dia mengatakan, berdasarkan wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada Juli 2026, Kota Yogyakarta mencatat inflasi tahunan sebesar 2,83 persen, lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Gunungkidul yang 2,30 persen.

"Sementara itu, secara bulanan kedua wilayah sama-sama mengalami deflasi, masing-masing sebesar 0,17 persen di Kota Yogyakarta dan 0,42 persen di Kabupaten Gunungkidul," katanya.

Baca juga: Jakarta alami deflasi 0,15 persen pada Juli 2026

Baca juga: BPS: Indonesia catat deflasi bulanan 0,14 persen pada Juli 2026

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.