Palu (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) dan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) konsisten melakukan pemeriksaan kesehatan satwa endemik Sulawesi burung maleo secara berkala di kawasan konservasi milik perusahaan tersebut di Kabupaten Banggai.

"Konservasi maleo eksitu upaya kami dalam meningkatkan populasi maleo yang terancam punah di alam liar. Sebagai perusahaan LNG yang beroperasi di Sulawesi Tengah upaya ini salah satu komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan hidup," kata Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana melalui keterangan tertulisnya diterima di Palu, Senin.

Ia mengemukakan sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, fasilitas konservasi eksitu satwa tersebut telah berhasil melepasliarkan 127 anak burung maleo ke habitatnya di Suaka Margasatwa Bakiriang Kabupaten Banggai.

Fasilitas tersebut berdiri di area kilang DSLNG dan tercatat sebagai fasilitas konservasi maleo pertama di luar habitatnya, fasilitas tersebut juga telah menjadi yang pertama berhasil menetaskan generasi Fillial 1 di inkubator dari indukan maleo di kandang penangkaran.

"Kami bukan hanya sekadar menangkar, tetapi juga memperhatikan kesehatan satwa endemik itu berkolaborasi dengan instansi teknis terkait dalam penanganannya," ujar Andhika.

Sementara itu Dokter Hewan dari tim BKSDA Sulteng Anang pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan maleo yang berada di kandang penangkaran dalam kondisi sehat.

Dari hasil pemeriksaan dilaksanakan pada Selasa (28/7) menunjukkan secara umum kondisi 21 ekor burung maleo di setiap kandang sehat.

"Dua ekor di antaranya sedang mengalami diare dan telah diberikan langkah penanganan yang diperlukan," ucapnya.

Ia menambahkan pemeriksaan kesehatan pada satwa endemik berupa pemeriksaan fisik meliputi mulut dan paruh, berat badan, suhu tubuh dan beberapa aspek lainnya untuk memastikan tidak ada penyakit yang dialami maleo.

Baca juga: Kemenkum Sulteng catatkan Burung Maleo sebagai KI Komunal

Baca juga: Melindungi maleo di luar kawasan konservasi

Pewarta: Mohamad Ridwan
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.