Bagi para penyintas, dermaga itu menjadi akhir perjalanan panjang dari laut. Namun, bagi negara, operasi belum benar-benar usai, sebelum setiap korban ditemukan, setiap identitas dipastikan, dan setiap keluarga memperoleh kepastian atas orang yang me

Surabaya (ANTARA) - Lampu di Gedung Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, belum juga padam ketika jarum jam melewati tengah malam, Minggu (2/8). Di gedung yang biasa menjadi tempat naik turun penumpang kapal laut itu, suasananya berubah menjadi pusat penanganan darurat untuk korban kapal terbakar di perairan utara Sumenep.

Ambulans berbaris di sisi dermaga. Petugas Basarnas, TNI, Polri, Pelindo, tenaga kesehatan, dan relawan bergerak dari satu titik ke titik lain menyiapkan kedatangan korban kapal terbakar di perairan utara Sumenep, KMP Mutiara Sentosa II.

Di ruang tunggu, keluarga korban kapal terbakar itu memilih bertahan. Tatapan mereka tak lepas dari pintu masuk dermaga. Setiap kabar kapal yang akan sandar membuat mereka berdiri, berharap orang yang ditunggu ikut turun bersama rombongan penyintas.

Sekitar pukul 23.15 WIB, KM Meratus Pematang Siantar, akhirnya merapat. Kapal niaga itu, malam tersebut membawa 111 penyintas dan dua korban meninggal dunia akibat kapal terbakar.

Petugas kesehatan menjadi orang pertama yang naik ke atas kapal. Mereka melakukan triase terhadap seluruh penyintas dari kapal terbakar, dengan memeriksa kondisi kesehatan, sekaligus memasang gelang penanda sesuai tingkat penanganan medis sebelum korban turun ke dermaga.

Dua jenazah kemudian dievakuasi menggunakan kantong jenazah menuju ambulans yang telah menunggu untuk dibawa ke RS Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso Surabaya. Sementara korban selamat dari kapal terbakar diarahkan menuju Gedung Gapura Surya Nusantara guna menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan, pendataan identitas, hingga dipertemukan dengan keluarga.

Bagi Ahmad, sopir ekspedisi asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang juga penyintas dari kapal terbakar, perjalanan menuju Surabaya mengakhiri penantian selama beberapa jam di tengah laut.

Ahmad bercerita, asap pertama kali muncul dari bagian belakang kapal terbakar, sebelum api terus membesar, hingga melumpuhkan mesin. Penumpang kemudian berkumpul di haluan sambil mengenakan pelampung dan menunggu bantuan datang karena sekoci di bagian buritan tidak lagi dapat digunakan.

Sekitar tiga jam kemudian, kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi mulai berdatangan. Sebagian penumpang kapal terbakar itu melompat ke laut menggunakan pelampung untuk kemudian diangkat ke kapal penyelamat yang tidak dapat merapat akibat kondisi gelombang.

Muhammad Abdul Karim, penyintas lainnya, menjelaskan, kala itu kobaran api hampir menghanguskan seluruh badan kapal terbakar. Bagian depan menjadi satu-satunya tempat yang masih dapat digunakan penumpang untuk bertahan, hingga pertolongan tiba.

Malam itu perjalanan para penyintas kapal terbakar memang berakhir di Tanjung Perak. Namun, bagi ratusan personel yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan, pekerjaan belum selesai.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.