Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan hingga Juli 2026 Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau 73,8 juta, di mana sebanyak sekitar 62,7 juta diskrining di puskesmas dan komunitas, serta sekitar 11,1 juta anak diskrining di sekolah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan di Jakarta, Selasa, jumlah tersebut dari target cakupan 2026 sebanyak 130 juta orang. CKG pada 2026 difokuskan pada tindak lanjut pada tiga kondisi kesehatan, ujarnya, yakni tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tinggi, sebagai upaya meningkatkan angka harapan hidup dan umur harapan hidup sehat.

"Indonesia tuh 72. Sekarang udah naik 74 ya. Nanti mau 2029 target umurnya 76 tahun," katanya.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr. Maria Endang Sumiwi mengatakan, dalam CKG 2026, terdapat kenaikan cakupan dari seluruh kelompok usia, di mana pada tahun 2026 peserta termasuk 1,5 juta bayi baru lahir, 4,5 juta anak usia prasekolah.

"Di sekolah sudah kita lakukan CKG sekolah, meskipun nanti bulan Agustus minggu kedua ini akan jauh lebih besar lagi. Untuk yang usia sekolah 14,6 juta dibandingkan tahun lalu 33 ribu. Pada dewasa tahun lalu sampai Juli 12 juta. Tahun ini sudah 43 juta," katanya.

Selain itu, katanya, pada tahun ini ada 9,7 juta lansia yang mengikuti CKG, di mana pada 2025 hanya ada 2,4 juta.

Sejumlah provinsi dengan cakupan tertinggi, katanya, seperti Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Banten, dan Lampung.

Kemudian, terkait tindak lanjut CKG, katanya, data Sistem Informasi di tiga puskesmas menunjukkan tata laksana hipertensi berkisar 43-62 persen.

Meski cakupan lebih tinggi dari 2025, Endang menyebutkan bahwa masih ada tantangan berupa ketidaktahuan publik tentang CKG, keengganan untuk memeriksakan diri karena takut hasil pemeriksaan, atau karena sibuk sehingga tidak sempat.

Pihaknya juga mengingatkan publik untuk mengikuti CKG setiap tahunnya, karena dengan CKG, dapat mengetahui kondisi yang muncul dari yang sebelumnya tidak ada.

Dia mencontohkan, pada 2025, ada sekitar 36 juta orang yang tidak punya diabetes melitus. Dari 36 juta orang itu, sebanyak 8,39 juta diperiksa lagi pada 2026, dan 188 ribu di antaranya ternyata sudah terkena diabetes.

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Kesehatan dari Universitas Indonesia (UI) dr Iwan Ariawan mengatakan, kalau ketidaktahuan akan kondisi kesehatan dibiarkan saja, diperkirakan pada 2035 kasus hipertensi yang memburuk menjadi penyakit kardiovaskular ada sekitar 5,9 juta.

"Tapi kalau dengan CKG, ini bisa kita kurangin 30 persen. Yang lain sudah terlanjur karena sudah hipertensi sebelumnya, sudah tidak terkendali sebelumnya," katanya.

Baca juga: Gubernur Sumut dukung jaminan kesehatan mitra pengemudi ojol diperkuat

Baca juga: Kemenkes minta pemda perkuat tenaga kesehatan cegah penyakit Tb

Baca juga: Kemenkes-Kemenimipas percepat skrining Tb bagi 274 ribu warga binaan

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.