Jakarta (ANTARA) - Jumlah nyamuk yang meningkat saat musim kemarau kerap dirasakan masyarakat, terutama ketika cuaca panas dan kering berlangsung cukup lama. Kondisi lingkungan tertentu saat kemarau ternyata dapat mendukung perkembangbiakan serta aktivitas nyamuk.
Sebagian orang mengira nyamuk hanya banyak saat musim hujan karena banyak genangan air. Namun, musim kemarau juga dapat menjadi periode meningkatnya populasi nyamuk apabila terdapat sumber air yang mendukung perkembangbiakan.
Menurut sejumlah kajian kesehatan lingkungan, faktor seperti suhu, kelembapan, pola hujan, dan keberadaan genangan air berpengaruh terhadap siklus hidup nyamuk. Suhu yang lebih hangat dapat mempercepat perkembangan nyamuk, sementara genangan air menjadi tempat berkembang biak bagi beberapa jenis nyamuk, termasuk Aedes aegypti yang dapat menularkan demam berdarah dengue (DBD).
1. Genangan air kecil menjadi tempat berkembang biak
Meski musim kemarau membuat jumlah air berkurang, beberapa tempat tetap dapat menampung air, seperti ember terbuka, pot tanaman, talang air, ban bekas, atau wadah yang tidak terpakai.
Genangan kecil tersebut dapat menjadi lokasi nyamuk bertelur. Air yang tidak mengalir dan jarang terganggu membuat telur serta larva nyamuk memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.
2. Suhu panas mempercepat siklus hidup nyamuk
Nyamuk merupakan serangga yang aktivitasnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Suhu yang hangat dapat mempercepat proses perkembangan dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.
Suhu, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap perkembangbiakan, kelangsungan hidup, serta penyebaran nyamuk pembawa penyakit.
Baca juga: Membasmi jentik untuk singkirkan penyakit
Baca juga: 4 warna yang ternyata tidak disukai nyamuk, patut dicoba!
3. Nyamuk lebih aktif mencari mangsa
Saat suhu lingkungan mendukung, aktivitas nyamuk untuk mencari makanan juga dapat meningkat. Nyamuk betina membutuhkan darah untuk membantu proses pembentukan telur sehingga lebih sering mendekati manusia.
Kondisi panas dan lingkungan yang mendukung dapat membuat masyarakat merasa gigitan nyamuk lebih sering terjadi dibandingkan periode lain.
4. Air tidak mudah mengalir atau menghilang
Pada musim kemarau, air yang tersisa di beberapa tempat biasanya lebih tenang karena tidak sering terkena aliran hujan. Kondisi tersebut membuat tempat berkembang biak nyamuk menjadi lebih stabil.
Berbeda dengan musim hujan, air yang mengalir deras terkadang dapat menghanyutkan telur atau larva nyamuk.
Baca juga: Penularan dengue hanya melalui gigitan nyamuk betina aedes aegypti
Risiko penyakit akibat gigitan nyamuk
Peningkatan jumlah nyamuk perlu diwaspadai karena beberapa jenis nyamuk dapat membawa penyakit. Salah satunya adalah Aedes aegypti yang menjadi penyebab utama penularan demam berdarah dengue (DBD).
Dengue merupakan penyakit akibat virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan populasi nyamuk dan menghilangkan tempat perkembangbiakannya.
Cara mengurangi jumlah nyamuk di rumah
Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko berkembangnya nyamuk, antara lain:
- Menguras tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup wadah yang dapat menampung air.
- Mengubur atau membuang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan.
- Membersihkan saluran air dan talang rumah.
- Menggunakan kelambu atau obat antinyamuk bila diperlukan.
Gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan prinsip 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, menjadi salah satu upaya yang dianjurkan untuk mengendalikan nyamuk penyebab DBD.
Dengan demikian, meningkatnya jumlah nyamuk saat musim kemarau bukan hanya disebabkan oleh cuaca panas, tetapi juga dipengaruhi oleh keberadaan genangan air, kondisi lingkungan, dan siklus hidup nyamuk. Menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Baca juga: Cara ampuh basmi jentik nyamuk di rumah untuk cegah DBD
Baca juga: Untuk pertama kali, ada nyamuk di Islandia
Baca juga: Perbedaan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus penyebab DBD
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.