Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu jawaban tantangan kesehatan yang berubah seiring zaman dan meningkatkan angka harapan hidup, mengingat penyebab kematian paling besar saat ini sering berupa penyakit yang tidak bergejala.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mencontohkan, pada 1965, angka harapan hidup orang Indonesia hanya 43 tahun, dan pada saat itu, masalah kesehatan banyak didominasi oleh penyakit infeksius serta masih terbatasnya fasilitas dan layanan kesehatan.

"Nah, sekarang dengan dieliminasi sanitasi yang makin baik, kemudian fasilitas kesehatan yang makin bagus, pengobatan infeksi makin bagus, bergeser yang tadinya penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif atau penyakit menua," kata Dante di Jakarta, Selasa.

Di sisi lain, katanya, perkembangan teknologi turut mengubah pola konsumsi masyarakat. Kehadiran layanan pesan antar makanan membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan makanan enak kapan pun, yang menurutnya turut berkontribusi terhadap tingginya angka obesitas di Indonesia.

Dia menyebutkan, penyakit-penyakit degeneratif tersebut yang menghambat peningkatan angka harapan hidup Indonesia yang saat ini berkisar 74,5 tahun. Jika angka tersebut mau dinaikkan, katanya, maka penyakit mematikan yang tak bergejala atau silent killer tersebut harus ditindaklanjuti.

"Nggak kelihatan. Kadang-kadang nggak ada keluhan. Orang hipertensi nggak tahu kalau dia hipertensi. Orang diabetes nggak tahu kalau dia itu diabetes," katanya.

Baca juga: Cakupan CKG capai 73,8 juta per Juli 2026

Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan pihaknya di Jakarta, sekitar satu dari delapan orang yang diperiksa diketahui menderita diabetes. Sekitar 3 persen telah mengetahui dirinya menderita diabetes, sedangkan 9 persen lainnya tidak mengetahui kondisi tersebut.

Oleh karena itu, CKG diharapkan dapat menangani masalah-masalah kesehatan seperti itu, sehingga dapat menekan biaya kesehatan, dan menciptakan masyarakat sehat demi Generasi Emas 2045 bisa tercapai.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr. Maria Endang Sumiwi meminta publik untuk mengikuti CKG setiap tahunnya, karena dengan skrining rutin, masyarakat dapat mengetahui kondisi yang muncul dari yang sebelumnya tidak ada.

Dia mencontohkan, sebanyak 30 juta orang yang tidak hipertensi mengikuti CKG pada 2025. Sebanyak 9,2 jutanya kembali diperiksa pada 2026, dan ternyata sekitar 1 juta orang terkena hipertensi.

Kemudian, pada 2025, ada sekitar 36 juta orang yang tidak punya diabetes melitus mengikuti CKG. Dari 36 juta orang itu, sebanyak 8,39 juta diperiksa lagi pada 2026, dan 188 ribu di antaranya ternyata sudah terkena diabetes.

"Kita senang bisa menemukan 1 juta yang tadinya nggak hipertensi sekarang hipertensi," kata Endang.

Baca juga: Menkes: CKG upaya tingkatkan umur harapan hidup sehat perempuan RI

Menurutnya, hal itu berarti penderita hipertensi ini bisa segera diobati.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.