Makassar (ANTARA) - Menteri Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Kampung Nelayan Merah Putih hadir untuk membela keberlangsungan hidup dan meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal.
Zulkifli menyayangkan penghasilan para nelayan yang telah menghadapi risiko melaut namun nilai hasil tangkapan masih jauh dari kata layak.
"Kita telah terlalu lama melalaikan kewajiban membela nelayan kita sendiri. Padahal nelayan kita adalah orang-orang yang sangat rajin. Mereka bekerja sangat keras, namun belum mendapatkan keadilan dan keberkahan yang layak," ujar dia pada Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Makassar, Selasa.
Data menunjukkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) saat ini berada di kisaran angka 103, dengan mayoritas nelayan tergolong ke dalam kelompok masyarakat miskin ekstrem pada desil satu dan desil dua.
Menurut dia, masalah utama yang dihadapi para nelayan bukanlah rendahnya produktivitas, melainkan lemahnya posisi tawar akibat tingginya ketergantungan pada rantai tengkulak.
Dia mengatakan ikan yang melimpah di laut, begitu sampai di darat harus dijual kepada tengkulak dengan nilai tawar hanya Rp20 ribu, sementara harga yang seharusnya Rp100 ribu.
"Pilihannya mereka harus menjual ikannya, kalau tidak dijual, ikan akan busuk dan mereka rugi lebih besar. Akhirnya terpaksa menjual dengan merugi," kata Zulkifli
Sering kali, tangkapan laut bernilai tinggi terpaksa dijual dengan harga jauh di bawah standar akibat ketiadaan fasilitas penyimpanan, hingga memaksa nelayan terjerat utang berkepanjangan yang membatasi daya tumbuh ekonomi mereka.
Maka dari itu, kata Zulkifli, Presiden Prabowo Subianto mempertegas bahwa harus membela nelayan Indonesia. Dari keinginan itulah lahir program Kampung Nelayan Merah Putih.
Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan pada pemukiman nelayan padat akan dibangun fasilitas lengkap berupa pabrik es, gudang pendingin (cold storage), bengkel perahu hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
"Nantinya, jika nelayan mendapatkan tangkapan melimpah namun harga sedang jatuh atau belum laku, mereka memiliki tempat untuk menyimpan ikan di dalam pendingin agar tetap awet," ujar dia.
Selain itu, ia mengatakan Koperasi Nelayan Merah Putih yang akan terhubung langsung dengan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia, dan dipastikan akan memutus rantai tengkulak. Sebab jika hasil laut pada satu daerah melimpah namun di daerah lain kekurangan, pasokan bisa disalurkan secara adil melalui jaringan koperasi ini.
Itu disebut sebagai bentuk kebijakan nyata untuk mewujudkan swasembada pangan, baik dari sisi karbohidrat maupun protein, kata Zulkifli.
"Itu baru sebagian kecil contoh perubahan besar dan mendasar yang sedang kita bangun. Mari kita sadari, selama 30 tahun masa reformasi, kita terlalu lama terhanyut dalam arus pasar bebas yang belum sepenuhnya memihak pada kepentingan rakyat sendiri," katanya menjelaskan.
Selain itu, berdasarkan data Menteri Kelautan, hampir sebagian besar kekayaan ikan di perairan Indonesia justru diambil oleh nelayan asing dari Thailand, Vietnam, hingga Tiongkok. Sementara nelayan Indonesia hanya bermodal perahu kecil, Kerugian pun dialami akibat pencurian ikan yang mencapai hampir Rp200 triliun setiap tahunnya.
Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.