Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menyatakan pengembangan singkong di Indonesia memiliki prospek besar.

“Pengembangan singkong memiliki prospek yang besar karena ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan strategis Indonesia,” ucapnya dalam agenda peresmian National Cassava Center di Universitas Lampung, dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Dia optimistis Indonesia berpotensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan komoditas singkong.

Dengan target produktivitas mencapai 60 ton per hektare, singkong diharapkan menjadi bahan baku strategis yang mampu memperkuat daya saing nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Baca juga: Kemenperin pacu produktivitas IKM singkong lewat kolaborasi industri

Menurut Rachmat Pambudy, kenaikan harga singkong dari sekitar Rp600–700 per kilogram pada tahun lalu menjadi sekitar Rp2.200 per kilogram saat ini membuka peluang yang semakin besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

"Ini adalah waktu kita untuk memakmurkan petani (singkong) kita," kata Kepala Bappenas.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti besarnya kontribusi Provinsi Lampung terhadap produksi singkong nasional.

Dia menyampaikan ada lebih dari 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Lampung. Delapan dari 15 kabupaten di provinsi tersebut menjadi sentra penghasil singkong yang didukung oleh berkembangnya industri tapioka.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.