Ilmu tanah mengajarkan bahwa banjir bukan semata persoalan banyaknya air yang turun dari langit, tetapi juga tentang seberapa baik bentang alam mampu menyerap, menyimpan, dan mengalirkannya.
Jakarta (ANTARA) - Kota Padang kembali dilanda banjir besar pada 3 Agustus 2026. Hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur hampir sepanjang hari dan menyebabkan empat sungai utama, yaitu Batang Kuranji, Batang Arau, Batang Aie Dingin, dan Batang Guo meluap hampir bersamaan.
Sedikitnya 15 titik di Kota Padang dilaporkan terendam, termasuk fasilitas kesehatan, sementara tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus mengevakuasi warga menggunakan perahu karet.
Berbagai laporan media menunjukkan akumulasi curah hujan berkisar antara sekitar 250 mm hingga lebih dari 380 mm pada beberapa lokasi pengamatan. Terlepas dari perbedaan angka antarstasiun hujan, seluruh data tersebut menunjukkan bahwa Kota Padang mengalami hujan dengan kategori sangat ekstrem.
Apabila digunakan nilai konservatif 250 mm dan diasumsikan hujan turun merata di seluruh wilayah Kota Padang seluas 694,96 km persegi, maka volume air hujan yang jatuh mencapai sekitar 173,7 juta meter kubik atau sekitar 174 miliar liter air.
Bila menggunakan angka curah hujan yang lebih tinggi, volume air yang masuk ke sistem hidrologi Kota Padang bahkan dapat melampaui 260 juta meter kubik hanya dalam waktu sekitar sepuluh jam. Besarnya volume tersebut cukup untuk membebani kapasitas infiltrasi tanah, drainase kota, dan sungai-sungai utama secara bersamaan.
Meluapnya Batang Kuranji, Batang Arau, Batang Aie Dingin, dan Batang Guo secara hampir bersamaan menunjukkan bahwa banjir yang terjadi bukan sekadar akibat saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air. Peristiwa ini merupakan respons hidrologi dari beberapa daerah aliran sungai (DAS) terhadap hujan ekstrem yang terjadi secara luas.
Pada kondisi seperti ini, air hujan yang jatuh di kawasan perbukitan segera berubah menjadi limpasan permukaan. Air mengalir melalui anak-anak sungai menuju sungai utama dalam waktu relatif singkat sehingga debit meningkat sangat cepat. Ketika kapasitas sungai terlampaui, air meluap ke dataran banjir dan memasuki kawasan permukiman.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa banjir perkotaan tidak dapat dipisahkan dari kondisi DAS di bagian hulu.
Baca juga: Ilmu Tanah dalam lensa geografi bagi lingkungan dan manusia
Baca juga: Sumbar targetkan semua penyintas banjir tempati huntara sebelum puasa
Jejak Satelit
Bencana banjir besar yang melanda Kota Padang pada 3 Agustus 2026 sesungguhnya tidak terjadi pada daerah aliran sungai (DAS) yang telah pulih. Analisis citra satelit Sentinel-2 terbaru yang direkam pada 31 Juli 2026, sekitar 3 hari sebelum banjir, menunjukkan bahwa kondisi hulu DAS Batang Kuranji masih menyimpan jejak kerusakan akibat banjir bandang 26–27 November 2025.
Tutupan vegetasi belum kembali seperti kondisi sebelum bencana, sementara sebagian lereng masih memperlihatkan area terbuka, bekas longsoran, dan koridor sungai yang tetap lebih lebar dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa proses pemulihan ekosistem DAS masih berlangsung dan belum mampu mengembalikan fungsi hidrologinya secara optimal.
Hasil tersebut melengkapi analisis citra Sentinel-2 yang sebelumnya membandingkan kondisi 4 Oktober 2025 sebelum banjir bandang dengan 1 Februari 2026 sesudah banjir. Analisis tersebut menunjukkan sekitar 80 hektare kawasan vegetasi berubah menjadi tanah terbuka atau endapan sedimen, sedangkan koridor sungai melebar dari sekitar 37 hektare menjadi sekitar 153 hektare.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.