Jakarta (ANTARA) - Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan bahwa riset bank sentral perlu diarahkan pada empat agenda prioritas guna menjawab tantangan fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, hingga meningkatnya risiko sistemik.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” kata Destry dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Salah satu agenda prioritas tersebut, yakni memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi.

Kedua, memperdalam analisis mengenai keuangan digital dan implikasi perkembangan sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), fintech, aset kripto, serta mata uang digital terhadap kebijakan bank sentral.

Baca juga: DPR RI: Gubernur BI baru harus jaga independensi bank sentral

Ketiga, mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi risiko siber, perubahan iklim, likuiditas, hingga risiko lintas negara.

Terakhir atau keempat, memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan sebagai fondasi dalam menjaga kepercayaan publik.

Pada 31 Juli yang lalu, BI telah menyelenggarakan Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers dengan tema “Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks".

Konferensi internasional BMEB dihadiri oleh peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.