Cirebon (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan di Indramayu, Jawa Barat, memanfaatkan kembali gas yang sebelumnya dibakar melalui gas suar (flare) sebagai bahan bakar proses produksi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan Yulianto Triwibowo dalam keterangannya di Indramayu, Rabu, mengatakan inovasi tersebut dilakukan melalui optimalisasi pengelolaan excess gas dari Naphtha Processing Unit (NPU) dengan reaktivasi jalur menuju fuel gas system.
“Gas yang sebelumnya terbuang melalui flare kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar proses produksi, sehingga mampu mengurangi pemborosan energi, meningkatkan efisiensi operasional, serta menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan,” katanya.
Pihaknya mendata implementasi inovasi tersebut, berhasil menurunkan konsumsi natural gas sehingga menghasilkan efisiensi biaya sekitar Rp45 miliar per tahun.
Ia mengatakan inovasi tersebut, mampu menekan emisi hingga 29.754 ton setara karbon dioksida (CO2) ekuivalen sepanjang 2025.
“Optimalisasi pengelolaan gas suar merupakan bentuk komitmen kami untuk menghadirkan operasi kilang yang semakin andal, efisien, aman, dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Yulianto menjelaskan flare merupakan sistem keselamatan yang wajib dimiliki industri minyak dan gas, untuk membakar kelebihan gas hidrokarbon secara aman demi menjaga keandalan operasi.
Namun, kata dia, pihaknya terus mengembangkan berbagai inovasi agar gas yang sebelumnya dibakar dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi yang bernilai tambah.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.