Jakarta (ANTARA) - Waktu keberangkatan pesawat dapat memengaruhi kenyamanan anak selama perjalanan sekaligus membantu mengurangi risiko jet lag, terutama pada penerbangan jarak jauh.

Berdasarkan siaran dari laman Condé Nast Traveler pada Senin (27/7), dokter anak sekaligus profesor klinis di New York University Julissa Baez mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap bayi dan anak kecil tidak mengalami jet lag.

"Kesalahpahaman yang paling umum adalah bayi dan anak kecil tidak mengalami jet lag," kata Baez.

Chief Executive dan Superintendent Pharmacist IQ Doctor Omar El-Gohary menambahkan waktu terbang yang ideal bergantung pada usia anak. Menurut dia, banyak orang tua juga menganggap penerbangan malam selalu menjadi pilihan terbaik, padahal hal itu belum tentu berlaku bagi semua kelompok usia.

Baca juga: "Jet lag" tak ada obatnya, kurangi dengan konsumsi makanan ini

Ia juga menjelaskan penerbangan ke arah timur umumnya lebih berat dibandingkan penerbangan ke arah barat karena tubuh harus menyesuaikan diri dengan waktu yang lebih cepat.

Untuk bayi usia 0 hingga 2 tahun, penerbangan pada pukul 06.00 hingga 09.00 pagi dinilai lebih sesuai karena sejalan dengan pola tidur alami mereka. Waktu tersebut juga membantu menjaga rutinitas tidur malam sehingga bayi tidak dipaksa tidur saat berada di dalam pesawat.

El-Gohary mengatakan penerbangan malam dapat menjadi tantangan apabila bayi sulit tidur selama perjalanan.

"Bayi yang menolak tidur selama penerbangan malam bisa membuat orang tua menghadapi lebih dari 10 jam stimulasi berlebihan, tangisan, dan kelelahan di ruang yang sempit," katanya.​​​​​

Baez menyarankan orang tua tidak datang ke bandara terlalu dini agar bayi tidak terlalu lama berada di lingkungan yang ramai. Bayi juga dianjurkan menyusu saat pesawat lepas landas dan mendarat untuk membantu mengurangi tekanan pada telinga. Selain itu, membawa satu mainan baru dapat menjadi pengalih perhatian selama penerbangan, dan orang tua tidak perlu langsung memaksakan jadwal tidur sesuai waktu tujuan setelah tiba.

Baca juga: Makanan penangkal jet lag

Untuk anak usia 2 hingga 4 tahun, penerbangan pada akhir pagi hingga awal siang lebih dianjurkan. Setelah memiliki kesempatan bergerak dan bermain di bandara, anak cenderung lebih tenang selama penerbangan sehingga risiko rewel akibat kelelahan dapat berkurang.

Sementara itu, El-Gohary mengingatkan bahwa gangguan jadwal tidur dapat memengaruhi kondisi emosional anak.

"Gangguan rutinitas tidur dapat memicu ketidakstabilan emosi sepanjang hari," ujarnya.

Orang tua juga disarankan membawa benda yang sudah akrab bagi anak, seperti selimut, piyama, atau mainan favorit, menghindari makanan dan minuman tinggi gula sebelum penerbangan, menyiapkan tayangan favorit yang dapat diakses tanpa internet, serta memberikan camilan secara bertahap selama perjalanan. Setelah tiba di tujuan, paparan cahaya matahari pada siang hari juga dapat membantu penyesuaian jam biologis anak.

Baca juga: Alami jet lag? begini cara mengatasinya

Sementara itu, untuk anak usia sekolah 5 hingga 12 tahun, penerbangan pada pukul 18.00 hingga 22.00 dinilai lebih efektif, terutama untuk rute jarak jauh. Pada usia ini, ritme sirkadian mulai berkembang sehingga anak lebih mudah tidur selama penerbangan malam dan beradaptasi dengan perbedaan waktu.

"Ketika ritme biologis mulai matang, penerbangan malam menjadi lebih efektif untuk mengurangi jet lag pada perjalanan jarak jauh," kata El-Gohary.

Ia menyarankan orang tua mulai menggeser jam tidur anak secara bertahap dua hingga tiga hari sebelum keberangkatan. Di dalam pesawat, anak dianjurkan tidur setelah makanan disajikan dan mengurangi penggunaan layar dengan tingkat kecerahan tinggi. Orang tua juga dapat mengubah jam tangan maupun perangkat elektronik ke zona waktu tujuan sejak awal perjalanan. Setelah mendarat, anak sebaiknya segera tidur atau mendapatkan paparan sinar matahari sesuai waktu kedatangan untuk membantu penyesuaian ritme sirkadian.

Adapun remaja usia 13 hingga 18 tahun umumnya lebih mudah beradaptasi dengan penerbangan malam karena secara alami memiliki waktu tidur yang lebih larut.

Baca juga: Kiat bepergian tanpa stres dengan atur manajemen waktu

Meski demikian, orang tua tetap perlu mewaspadai gejala jet lag seperti mudah marah, sakit kepala, dan menurunnya motivasi.​​​​​​

Baez menyarankan remaja mengurangi konsumsi kafein sebelum penerbangan, mencukupi kebutuhan cairan sebelum dan selama perjalanan, menghindari tidur segera setelah tiba apabila mendarat pada siang hari, serta membatasi penggunaan gawai pada malam hari untuk mengurangi paparan cahaya biru.

Pada hari pertama liburan, aktivitas yang ringan juga lebih dianjurkan agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan zona waktu baru.

Baca juga: Panduan packing yang efisien agar liburan lebih nyaman

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.