Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak institusi pendidikan tinggi di seluruh Indonesia untuk semakin erat berkolaborasi dengan dunia usaha guna menjembatani kesenjangan kompetensi yang saat ini masih terjadi.

"Sayangnya, memang tantangan kita saat ini adalah ada gap antara institusi pendidikan dunia kampus dengan realitas industri. Ini yang kemudian menurut saya harus didekatkan," kata Yassierli dalam kegiatan Rapat Tahunan Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI) di Jakarta, Kamis.

Menaker menilai kesenjangan atau gap tersebut secara langsung memengaruhi optimalisasi penyerapan tenaga kerja, di mana saat ini masih terdapat ratusan ribu lulusan pendidikan tinggi yang belum mendapatkan kesempatan berkarya dengan maksimal.

"Pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia saat ini 900 ribu orang. Ini adalah realitas kita saat ini," lanjut dia.

Yassierli menjelaskan bahwa isu krusialnya bukan semata-mata pada ketersediaan lapangan kerja, melainkan pada fenomena ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch.

Ia menjelaskan hal ini sering kali terjadi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada jenjang yang belum sepenuhnya sejalan dengan latar belakang pendidikannya.

Menurut pengamatan Menaker, salah satu tantangan berat yang harus diselesaikan kampus adalah waktu penyesuaian kurikulum yang membutuhkan proses administratif panjang, sementara perubahan di sektor industri berjalan sangat responsif dan dinamis

Dalam mendukung misi mulia perguruan tinggi, Kementerian Ketenagakerjaan memposisikan diri secara proaktif sebagai instrumen penyempurna (finishing) bagi para lulusan perguruan tinggi yang tengah berupaya masuk ke bursa kerja.

"Apa finishing yang kami lakukan? Kalau ada skill-skill yang masih kurang kita fasilitasi dengan berbagai pelatihan skill," ucap Yasierli.

Baca juga: Menaker minta perusahaan tak tahan ijazah para pekerja

Baca juga: KPK sebut informasi dari stafsus menentukan pemanggilan mantan Menaker

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.