Mataram (ANTARA) - Antrean panjang kendaraan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghambat produktivitas dan pendapatan masyarakat lantaran waktu mereka tersita hanya untuk memperoleh bahan bakar.

"Kalau antre begini yang rugi kami. Waktu banyak habis di SPBU, jadi pas dapat order kami sering telat sampai ke lokasi jemput," kata salah seorang pengemudi ojek daring bernama Odik saat ditemui sedang mengantre bensin di Mataram, NTB, Kamis.

Antrean panjang kendaraan bermotor roda dua dan roda empat terjadi merata di Pulau Lombok mulai dari Lombok Timur hingga Kota Mataram. Kondisi tersebut membuat pengendara harus menunggu cukup lama sebelum dapat melanjutkan perjalanan.

SPBU di jalur Lingkar Selatan Mataram, misalnya, pengendara roda dua harus menghabiskan waktu mengantre selama 15 sampai 30 menit demi mendapatkan bensin.

Durasi menunggu selama setengah jam tersebut setara dengan menempuh perjalanan sejauh 20 kilometer dari Mataram menuju kawasan wisata Senggigi di Lombok Barat.

Kondisi itu secara langsung mempengaruhi pendapatan warga karena semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk mengantre, maka semakin sedikit waktu yang dapat digunakan untuk menerima pesanan.

"Penumpang ada yang mengeluh karena harus menunggu lama, bahkan ada juga yang membatalkan pesanan. Mau tidak mau, pendapatan kami juga ikut berkurang," ucap Odik.

Berdasarkan pantauan di lapangan terlihat antrean kendaraan di perkotaan lebih didominasi sepeda motor. Sedangkan, antrean kendaraan di wilayah kabupaten sentra pertanian dan hasil bumi mayoritas dipenuhi mobil bak terbuka.

Keluhan serupa disampaikan Hapis, salah seorang pengendara yang juga ikut mengantre pada SPBU di Mataram. Ia mengatakan antrean untuk mendapatkan bensin membuat sejumlah aktivitas masyarakat tertunda.

Masyarakat Lombok berharap kondisi pasokan dan pelayanan BBM segera normal, sehingga waktu produktif tidak lagi banyak tersita di SPBU dan aktivitas ekonomi bisa kembali lancar.

"Mudah-mudahan cepat normal lagi biar tidak antre lama, jadi kami bisa lanjut kerja dan urusan lain juga tidak banyak yang tertunda," pungkas Hapis.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Pertamina telah mendatangkan bahan bakar minyak sebanyak 7.600 kiloliter untuk mengatasi kelangkaan di wilayah Lombok melalui dua tahap pengiriman pada 3 Agustus 2026.

Kapal pertama mengangkut 2.100 kiloliter Pertalite dan 500 kiloliter Pertamax atau total 2.600 kiloliter bahan bakar minyak. Sedangkan, kapal kedua membawa 2.000 kiloliter Pertalite dan 3.000 kiloliter Biosolar.

Meski Pertamina telah memasok bahan bakar dalam jumlah banyak ke Pulau Lombok, namun antrean panjang kendaraan tetap terjadi di berbagai SPBU sampai hari ini.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Samsudin mengatakan antrean kendaraan di setiap SPBU berbeda-beda tergantung pola konsumsi masyarakat, waktu kedatangan konsumen, serta karakteristik pengguna di masing-masing lokasi.

"Di sejumlah SPBU di Pulau Lombok, mayoritas konsumen Pertalite memang didominasi oleh kendaraan roda dua, sehingga ketika terjadi peningkatan permintaan, antrean sepeda motor cenderung lebih terlihat dibandingkan kendaraan roda empat," pungkas Samsudin.

Baca juga: Kapal BBM bermuatan 7.600 kiloliter masuk Lombok

Baca juga: Pemprov NTB usul pendistribusian BBM nelayan sesuai musim melaut

Baca juga: Penimbunan BBM di NTB terbongkar, Polisi libatkan ahli migas

Pewarta: Sugiharto Purnama dan Raudatul
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.