Bogor (ANTARA) - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) optimistis kinerja ekspor kendaraan pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan memperluas pasar di Amerika Latin sekaligus menjajaki negara tujuan ekspor baru.

Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya mengatakan perusahaan menargetkan volume ekspor tahun ini setidaknya menyamai atau melampaui capaian 2025 meski belum menyatakan target pertumbuhan secara rinci.

“Harapannya paling tidak sama atau lebih dari tahun lalu. Tidak ada yang ingin target turun, pasti ingin target naik. Mudah-mudahan kami bisa mencapai target itu,” kata Winaya usai Kick Off Toyota Eco Youth ke-14 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Menurut dia, penetapan sasaran ekspor secara pasti masih mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain perkembangan kondisi global dan permintaan pelanggan di masing-masing negara tujuan.

“Kami tidak bisa secara jelas menargetkan karena tergantung situasinya. Ada situasi global kemudian situasi pelanggan. Banyak faktor yang memengaruhi, sehingga intinya kami ingin ekspor naik,” ujarnya.

Ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU) Toyota Indonesia pada semester I 2026 mencapai 145.080 unit atau tumbuh 10,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut, Toyota menerapkan pendekatan goyokiki dengan mendatangi pelanggan secara langsung guna memahami kebutuhan dan menyelesaikan kendala yang mereka hadapi.

“Yang paling utama adalah kami datang ke pelanggan memahami apa yang dibutuhkan, apa yang diinginkan, dan apa yang menjadi masalah kemudian segera menyelesaikannya sehingga mereka lebih puas terhadap produk kami,” ujar Winaya.

Selain memperkuat hubungan dengan pelanggan di pasar yang telah dijangkau, TMMIN mencari negara tujuan baru yang dinilai masih memiliki kebutuhan terhadap kendaraan produksi Indonesia.

Winaya menyebut Amerika Latin sebagai salah satu kawasan yang masih memiliki ruang untuk peningkatan ekspor. Toyota juga tetap mempertahankan pasar di kawasan Asia.

“Amerika Latin sudah kami masuki. Sekarang bagaimana meningkatkan kuota yang bisa dikirim ke sana. Di Asia juga tetap kemudian kami mencoba menjajaki negara-negara lain yang belum dimasuki,” ucap dia.

Menurut dia, perluasan tujuan ekspor membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah dan kementerian terkait untuk membuka akses pasar serta meningkatkan pengiriman kendaraan produksi dalam negeri.

“Kami tidak bisa sendiri. Kami bekerja sama dengan kementerian-kementerian terkait untuk meningkatkan ekspor ataupun menuju destinasi baru,” ujarnya.

Mengenai kondisi Timur Tengah, Winaya mengatakan permintaan pelanggan terhadap produk Toyota masih relatif baik. Namun ketegangan di kawasan tersebut berpotensi menghambat proses pengiriman.

“Yang menjadi masalah lebih nyata sekarang adalah logistik. Kapal-kapal banyak yang tertahan sehingga kontainer juga tertahan,” ungkapnya.

Meski demikian, Winaya tetap optimistis kinerja ekspor perusahaan dapat terjaga sepanjang tahun selama hambatan logistik dapat berangsur membaik.

Baca juga: Toyota nilai insentif EV dapat beri efek berganda bagi ekonomi

Baca juga: Purbaya tawarkan insentif agar Toyota relokasi produksi ke RI

Baca juga: Toyota arahkan TEY-14 hasilkan aksi nyata dukung dekarbonisasi RI

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.