Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa peringatan Hari ASI Sedunia bukan sekadar seremonial kesehatan, melainkan sebuah gerakan peradaban untuk menyiapkan masa depan bangsa.

"Bagi PDI Perjuangan, kita kembali ke akar rumput kita, termasuk hari ini mempersiapkan bayi-bayi Indonesia agar memiliki gizi yang cukup. ," kata Hasto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara puncak peringatan Hari ASI Internasional yang digelar PDIP di Lapangan Sekarwangi, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Rabu (6/8).

"Saya akan berikan dua pantun: ASI menyelamatkan kehidupan, cerminan kasih ibu yang tidak berkesudahan. ASI tidak pernah tergantikan, berikan gizi lengkap, basis kecerdasan untuk masa depan," ujar Hasto pada kesempatan itu.

Di hadapan ribuan kader, terutama para ibu dari Wanoja Perjuangan Jabar, Hasto membuka orasinya dengan pantun khas yang langsung menyentuh peran ibu.

"Ke Sukabumi makan bubur, disambut tarian indah nan lentur. Bagi Ibu-ibu menyusui janganlah suka lembur, selalu berikan ASI, kecerdasan anak tumbuh subur," ujarnya.

Menurut Hasto, esensi politik sejati adalah membangun peradaban, bukan sekadar perebutan kekuasaan dan modal.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia ke depan bergantung pada gizi dan kecerdasan anak-anak yang dimulai dari pelukan seorang ibu.

Baca juga: Sekjen PDIP: Perubahan besar berawal dari ide anak muda

Hasto juga menyampaikan salam hangat dari Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, yang dinilainya sangat konsisten dalam membangun peradaban dan kesehatan ibu dan anak.

Ia mengutip Bung Karno yang menyebut laki-laki dan perempuan bagaikan sayap burung. "Satu patah, burung tidak bisa terbang. Indonesia tidak akan pernah makmur kalau ibu-ibunya juga tidak maju," tegasnya.

Hasto menegaskan tugas utama semua pihak adalah mempersiapkan anak didik, dan ASI yang diberikan penuh gizi menjadi modal awal kepemimpinan Indonesia bagi dunia.

"Indonesia unggul dibangun dari dini, dari sosok bayi yang diberikan ASI," kata Hasto.

Masalah stunting menjadi sorotan utama dalam acara tersebut. Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono, melaporkan bahwa Kabupaten Sukabumi memiliki angka prevalensi stunting sebesar 20,5 persen, masuk dalam lima besar tertinggi di Jawa Barat.

Menanggapi data tersebut, Hasto memberikan resep paling sederhana dan konkret untuk daerah yang dipimpin oleh Wakil Bupati Andreas Sukmara itu.

"Resep paling sederhana untuk mengatasi stunting adalah, Pak, harus sering bertemu dengan Ibu-ibu. Harus sering bertemu dengan mereka yang baru menikah, berikan pendidikan bagi mereka," tutur Ono.

Momentum edukasi kesehatan pun semakin lengkap dengan interaksi langsung dari Ketua DPP PDIP Bidang Kesehatan, Prof. (HC) Dr. dr. Ribka Tjiptaning. Di panggung acara itu, ia mengajak puluhan ibu yang sedang menyusui untuk maju ke depan, memberikan edukasi langsung tentang pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan.

"Tahu enggak stunting itu 1.000 hari pertama kehidupan? 270 hari di dalam kandungan, 730 hari di luar. Stunting tidak harus pendek, tapi IQ-nya, Pak. Kalau IQ-nya di bawah, sama saja dia stunting," jelas Ribka.

Dalam kesempatan itu, Ribka membantah mitos bahwa menyusui bisa membuat payudara kendur. Ia juga menekankan agar ibu tidak membuang kolostrum (ASI pertama yang berwarna kuning) karena kaya akan antibodi dan daya tahan tubuh.

Baca juga: Riset BRIN: Faktor pendidikan berpengaruh pada pemberian ASI eksklusif

Baca juga: IDAI jelaskan alasan gumoh normal terjadi pada bayi

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.