Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan pentingnya penguatan literasi keagamaan lintas budaya (Cross-Cultural Religious Literacy/CCRL) sebagai fondasi utama menjaga toleransi serta membangun komunitas kawasan yang inklusif menuju Visi Komunitas ASEAN 2045.
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu RI Ina Krisnamurthi menyampaikan bahwa ASEAN bukan hanya sekadar lembaga, pertemuan antarpejabat, atau capaian ekonomi belaka, melainkan wadah bagi lebih dari 700 juta jiwa dengan latar belakang budaya, agama, dan tradisi yang amat beragam.
"Keberagaman di kawasan kita bukan hanya soal masa depan Asia Tenggara, melainkan identitas bersama. Kita tidak mencari keseragaman, melainkan mengakui bahwa perbedaan agama, budaya, dan sosial adalah bagian integral dari kita," ujar Ina dalam webinar internasional yang diselenggarakan Sasakawa Peace Foundation dan Institut Leimena memperingati Hari ASEAN, Kamis.
Dalam seminar yang membahas literasi keagamaan lintas budaya untuk kohesi publik dan perdamaian Asia Tenggara itu, Ina menyoroti dinamika global maupun regional yang masih diwarnai tantangan intoleransi, kesalahpahaman, serta pengucilan sosial.
Menurut dia, harmoni dan kedamaian tidak dapat terjadi secara otomatis, melainkan harus terus dipelihara dan diperjuangkan secara berkelanjutan.
Ia menilai kedekatan fisik semata antarwilayah atau antarkomunitas belum menjamin terciptanya rasa saling pengertian.
Karena itu, pendekatan literasi keagamaan lintas budaya (CCRL) menjadi krusial untuk melatih masyarakat berinteraksi melintasi perbedaan dengan empati, rasa hormat, dan sensitivitas.
"CCRL bukan hanya tentang mempelajari agama lain, melainkan belajar satu sama lain. Pendekatan ini mengubah keberagaman dari potensi ketegangan menjadi sumber kohesi sosial," ujarnya.
Melalui Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya pada pilar politik-keamanan serta sosial-budaya, negara-negara anggota telah berkomitmen mempromosikan pluralisme, memperkuat toleransi, dan mewujudkan harmoni sosial secara konkret.
Dalam hal ini, Ina menyatakan Indonesia bangga dapat berkontribusi aktif dalam perjalanan kolektif ASEAN.
Selama hampir delapan dekade, Indonesia mengelola keberagaman masyarakatnya dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong.
"Nilai-nilai ini mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan sekaligus rasa hormat terhadap kebinekaan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia tidak mengklaim memiliki model yang sempurna, tetapi kita perlu saling belajar dan berbagi pengalaman di tingkat kawasan," tuturnya.
Untuk memperkuat rasa kebersamaan (we feeling) di ASEAN, Ina mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan sistem pendidikan yang menanamkan pemahaman mendalam tentang pluralisme dan kebinekaan, pemberdayaan generasi muda sebagai duta toleransi dan perdamaian, serta mempererat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan organisasi masyarakat sipil.
“Yang tak kalah penting, kita perlu memastikan bahwa platform digital—di mana banyak interaksi terjadi saat ini—dimanfaatkan sebagai ruang dialog yang konstruktif, bukan sarana perpecahan,” kata Ina.
Duta Besar RI untuk India periode 2021-2025 itu juga mengingatkan bahwa masa depan ASEAN tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan menjaga kepercayaaan (trust), merawat toleransi, dan memperkokoh persatuan di tengah perbedaan.
"Semangat persatuan dalam keberagaman (unity in diversity) adalah alasan utama mengapa ASEAN dahulu, kini, dan selamanya akan tetap kuat," pungkasnya.
Baca juga: Kemlu RI: Indonesia jadi contoh sukses jaga persatuan dengan toleransi
Baca juga: Kemlu kenalkan toleransi lewat keberagaman RI ke komunitas agama Eropa
Baca juga: Kemlu sebut RI masih jadi panutan negara luar dalam praktik toleransi
Pewarta: Yashinta Difa
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.