Jakarta (ANTARA) - Sebuah studi terbaru dari Brasil mengungkapkan bahwa pola makan ayah dapat memengaruhi kesehatan bayi.

“Nutrisi dan kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan selalu menjadi perhatian utama. Namun, masih sedikit yang membahas peran pola makan ayah. Penelitian kami menunjukkan bahwa pola makan ayah juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi,” kata salah seorang penulis studi ​​​​​​Daniela Sartorelli, dikutip laporan New York Post, Sabtu (1/8).

Studi itu menunjukkan bahwa ayah yang sering mengonsumsi makanan cepat saji cenderung memiliki bayi yang lahir dengan bobot badan lebih berat.

Baca juga: Dokter: Bayi prematur lebih berisiko mengalami gangguan ginjal

Para peneliti menduga bahwa makanan ultra-proses memicu peradangan yang dapat memengaruhi kualitas sperma serta mengubah aktivitas gen pada bayi.

“Proses ini dikenal sebagai epigenetika. Aktivitas gen dapat ‘diaktifkan’ atau ‘dinonaktifkan’ bergantung pada kebiasaan makan sang ayah,” ujar salah seorang penulis studi Mariana Rinaldi Carvalho.

Secara khusus, peneliti mengamati gen IGF-II, yang hanya diwariskan dari ayah dan berperan penting dalam pertumbuhan janin. Meskipun konsumsi makanan ultra-proses oleh ayah dikaitkan dengan berat lahir bayi yang lebih tinggi, pola makan ibu menunjukkan hasil yang berbeda.

Ketika ibu mengonsumsi makanan ultra-proses pada awal kehamilan, hingga usia kehamilan 16 minggu, bayi cenderung lahir dengan berat badan lebih rendah, tinggi badan lebih pendek, dan lingkar kepala yang lebih kecil. Peneliti menduga hal ini terjadi karena makanan ultra-proses umumnya "miskin nutrisi".

Makanan ultra-proses umumnya dibuat dari ekstrak bahan pangan, bukan bahan utuh, lalu diracik di pabrik dengan berbagai bahan tambahan seperti pengawet, pemanis, pewarna, penguat rasa, hingga zat aditif lain yang jarang digunakan dalam dapur rumah tangga.

Contoh makanan ultra-proses ialah minuman bersoda, minuman bubuk berperisa buah, permen, adonan kue instan, produk daging olahan, serta mi instan.

Kondisi kesehatan dan gaya hidup ayah memberikan dampak pada bayi. Dalam hal ini, bayi yang lahir dengan berat badan terlalu rendah maupun terlalu tinggi memiliki risiko kematian yang lebih besar.

Selain itu, bayi juga lebih rentan mengalami penyakit tidak menular kemudian hari, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga beberapa jenis kanker.

Berat badan lahir yang terlalu tinggi juga dapat memperlambat pencapaian perkembangan motorik, seperti merangkak dan berjalan.

Dampak makanan ultra-proses tidak hanya berkaitan dengan kesehatan bayi yang baru lahir. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, sindrom metabolik, obesitas, penyakit hati berlemak, diabetes tipe 2, depresi, demensia, hingga kematian dini.

Baca juga: Ahli jelaskan pentingnya vitamin K pada bayi baru lahir

Baca juga: Dokter jelaskan alasan gula dan garam tidak disarankan untuk bayi

Baca juga: Intervensi gizi semasa hamil turunkan kemungkinan kelahiran prematur

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.