Perth (ANTARA) - China mencatatkan "kemajuan pesat dalam peralihan ke energi bersih" dan "secara nyata memimpin dunia" dalam transisi hijau, kata pimpinan sebuah perusahaan transportasi dan logistik terkemuka di Australia, mendesak seluruh dunia untuk menoleh ke Timur untuk mengupayakan pembangunan hijau.
"Saya penggemar berat China!" ungkap Christine Holgate, CEO Team Global Express, kepada Xinhua dengan antusiasme yang terlihat jelas dalam sebuah wawancara baru-baru ini di Perth, ibu kota Australia Barat.
"Saya pikir pencapaian mereka sangat penting karena orang-orang mengagumi (mereka) dan ingin melihat contoh nyata yang benar-benar berhasil," kata dia sebagaimana warta Xinhua.
"Sepuluh tahun yang lalu atau lebih, tidak ada yang menduga hal ini akan terjadi, tetapi transformasinya berlangsung begitu cepat," imbuh Holgate.
Sebagai orang yang sering berkunjung ke China dan memiliki banyak mitra bisnis di sana, Holgate telah lama mengagumi komitmen negara tersebut terhadap pembangunan hijau.
Holgate mengungkap bahwa, sebagai salah satu jaringan pengiriman terpenting di Australia dan Selandia Baru, Team Global Express saat ini sedang menguji coba armada kendaraan listrik berat berskala besar dengan bantuan dari Badan Energi Terbarukan Australia. Dia menegaskan Australia harus mencontoh China untuk strategi yang telah terbukti, dan bahwa pelajaran yang bisa dipetik lebih dari sekadar kendaraan listrik.
"Pemerintah China melakukan upaya yang sangat gigih. Mereka memangkas pajak, membebaskan biaya plat nomor kendaraan, dan bahkan berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur untuk mendukung pengisian daya kendaraan listrik. Kami di Australia masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang," ujarnya.
"Kini, kendaraan energi baru (China) mulai masuk, didukung oleh teknologi yang semakin maju dan produksi skala besar. Australia dapat memanfaatkan produksi massal dari China tersebut. Hal itu memungkinkan kami untuk benar-benar mempercepat proses adopsi tersebut," lanjutnya.
Holgate membagikan apa yang telah dia pelajari dari dua perusahaan transportasi besar di China mengenai cara mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk merencanakan ruang kendaraan dan rute.
"Ini bukan sekadar soal elektrifikasi. Selagi kami menjalani proses tersebut, kami harus mencari tahu bagaimana kami dapat melakukan berbagai hal dengan lebih cerdas dan efisien," tekan Holgate.
Holgate juga menuturkan bahwa perusahaan-perusahaan China memimpin dalam pemanfaatan media sosial untuk memahami konsumen. "Jika kami dapat menerapkan pemikiran dan proses tersebut ke dalam perusahaan-perusahaan infrastruktur berat dan berskala besar, hal itu akan memberikan hasil yang lebih baik bagi pelanggan."
Sebagai veteran di industri logistik, Holgate juga sama terkesannya dengan upaya China dalam memanfaatkan e-commerce untuk mengentaskan kemiskinan dan mencapai pembangunan regional yang seimbang.
Dia melihat adanya kesamaan langsung bagi Australia, di mana 28 persen penduduknya tinggal di daerah-daerah regional dan sering kali harus membayar harga barang yang lebih tinggi. Dia mengatakan hal ini adalah "tentang mewujudkan masa depan yang berkelanjutan bagi negara kami."
"Kemunculan e-commerce lintas perbatasan telah membuat banyak warga Australia bisa menikmati manfaat dari biaya yang lebih rendah untuk berbagai macam produk, dan hal itu sebenarnya sangat membantu para ibu dan ayah di Australia di tengah tekanan biaya hidup yang terjadi secara global," kata Holgate.
Menyadari pasar-pasar Barat memiliki banyak hal yang harus dipelajari dari China, Holgate menyatakan keyakinan kuatnya bahwa para pengamat asing perlu mengunjungi negara tersebut secara langsung untuk mendengar, mengamati, dan belajar.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.