Perserikatan Bangsa-Bangsa (ANTARA) - Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan melaporkan eskalasi aktivitas militer paling "tajam" antara Israel dan Hizbullah sejak akhir Juni, ungkap seorang juru bicara PBB pada Kamis (6/8).
Eskalasi aktivitas militer itu semakin parah menyusul perjanjian kerangka kerja Amerika Serikat (AS)-Israel-Lebanon ditandatangani.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) mencatat 113 proyektil telah ditembakkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) pada Rabu (5/8), yakni rekor harian tertinggi yang terpantau sejak 21 Juni.
UNIFIL tidak mendeteksi peluncuran proyektil apa pun oleh Hizbullah selama periode yang sama, ujar Farhan Haq, wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Eskalasi tersebut terus berlanjut pada Kamis.
Sejak tengah malam hingga pukul 16.00 waktu setempat, UNIFIL mencatat 120 proyektil ditembakkan oleh IDF, melampaui total sepanjang Rabu sekaligus menandai jumlah tertinggi yang terpantau dalam sehari sejak 21 Juni, kata Haq.
UNIFIL juga mencatat adanya aktivitas udara yang signifikan.
Pada Rabu, pasukan penjaga perdamaian mencatat 49 pelanggaran wilayah udara dengan akumulasi waktu penerbangan melampaui 131 jam, level tertinggi sejak 23 Juni. Mereka juga memantau tiga serangan udara di barat laut Al Mansuri, tutur juru bicara PBB itu.
Sejak tengah malam hingga pukul 16.00 pada Kamis, pasukan penjaga perdamaian mencatat tambahan 29 pelanggaran wilayah udara dan sedikitnya tiga serangan udara di sekitar Al Mansuri, ujar Haq.
Di laut, pada Senin (3/8), UNIFIL memantau kapal-kapal patroli IDF melintasi Garis Pelampung (Line of Buoys) hingga memasuki perairan teritorial Lebanon sebelum akhirnya kembali ke arah selatan, kata Haq.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.