Jakarta (ANTARA) - Hasil penelitian baru yang dipublikasikan di platform Science pada Kamis (6/8) menunjukkan kemampuan model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam merancang genom virus dan menghasilkan virus baru.
Menurut warta The New York Times, ilmuwan di Arc Institute Palo Alto dan Universitas Stanford dalam penelitian itu melatih AI menggunakan kumpulan data DNA lalu meminta model membuat rancangan genom virus.
Para peneliti menggunakan model bahasa genom, model bahasa genom dilatih menggunakan korpus DNA masif yang mencakup jutaan genom dari berbagai domain kehidupan menurut ringkasan penelitian yang dipublikasikan di Science.
Dalam riset itu, model bahasa genom Evo1 dan Evo2 digunakan untuk menghasilkan virus yang menginfeksi bakteri atau bakteriofag.
Virus semacam ini memiliki beragam aplikasi dalam biologi molekuler, rekayasa mikroba, dan terapi.
Model bahasa genom Evo 1 dan Evo 2 dimanfaatkan untuk menghasilkan genom fag utuh yang memiliki arsitektur genetik realistis serta spesifisitas terhadap inang bakteri Escherichia coli C.
Para peneliti kemudian mengevaluasi ribuan genom buatan AI dan mendapati 16 fag yang layak, dan fag-fag tersebut berbeda dari fag alami mana pun yang telah diketahui.
Baca juga: Ilmuwan AS ciptakan bakteriofag AI untuk pertama kali
Menurut para peneliti, temuan tersebut menunjukkan bahwa model AI generatif mampu menangkap batasan evolusioner dalam urutan DNA dengan tingkat akurasi yang memadai untuk menghasilkan genom bakteriofag utuh.
Para peneliti menyampaikan bahwa pendekatan mereka dapat memperluas cakupan kemampuan genomika sintetik.
Pendekatan tersebut menurut mereka merintis jalan bagi pengembangan terapi fag yang adaptif dan tangguh dalam menghadapi patogen yang berevolusi dengan cepat sekaligus meletakkan dasar bagi desain generatif genom yang lebih besar dan kompleks.
Menurut siaran Engadget, virus yang dirancang menggunakan AI dapat digunakan untuk meningkatkan terapi gen serta membuat alat yang lebih baik untuk menyerang bakteri berbahaya.
Namun demikian, pengembangan inovasi semacam itu membutuhkan regulasi ketat untuk memastikan pelaksanaannya bertanggung jawab dan tidak memicu masalah baru.
Baca juga: UMY kembangkan prototipe AI untuk deteksi limfoma dan tumor otak
Baca juga: Pemanfaatan AI diestimasi bisa hasilkan nilai ekonomi Rp200 triliun
Penerjemah: Livia Kristianti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.