Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan keluarga perlu membangun budaya yang tidak menoleransi kekerasan untuk membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

"Kita perlu membangun budaya yang tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apapun, serta membangun budaya yang tidak abai terhadap apa yang terjadi di sekitar kita," kata Isyana dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, menurut dia, keluarga yang menghadirkan lingkungan pengasuhan aman, penuh kasih sayang, dan bebas dari kekerasan merupakan investasi penting untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul.

"Lingkungan pengasuhan yang positif tentunya akan membentuk generasi yang sehat, cerdas, tangguh, berkarakter dan siap menjadi penerus pembangunan bangsa," ujar dia.

Baca juga: Kemendukbangga perkuat peran keluarga wujudkan ruang aman bagi anak

Menurut dia, menciptakan lingkungan yang aman bagi anak harus menjadi tanggung jawab bersama melalui pengasuhan yang berkualitas dan kepedulian terhadap pemenuhan hak-hak anak.

Ia menegaskan, perlindungan anak harus dimulai dari rumah melalui pola asuh yang penuh kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta kemampuan orang tua mengelola emosi. Hal tersebut penting karena berdasarkan data pengawasan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2025, menunjukkan bahwa pelanggaran hak anak paling banyak berasal dari lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.

"Oleh karena itu, membangun budaya yang peduli dan melindungi anak harus menjadi tanggung jawab bersama," ucap Isyana.

Hingga pertengahan tahun 2025, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat 13.845 laporan kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Kasus tersebut mencakup kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, eksploitasi, hingga kekerasan digital atau cyberbullying (perundungan siber).

Baca juga: Kemendukbangga ingatkan pentingnya pengasuhan tanpa kekerasan

Sementara psikolog Nila Anggreiny mengatakan, anak tidak selalu mampu mengungkapkan pengalaman yang dialaminya, sehingga perhatian orang tua menjadi kunci agar pendampingan dan perlindungan dapat diberikan sedini mungkin.

Menurut dia, perubahan emosi, gangguan tidur, regresi, perubahan perilaku, maupun perubahan fisik dapat menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan perhatian lebih. Meski tidak ada satu tanda yang secara pasti menunjukkan anak mengalami kekerasan, kemunculan beberapa perubahan secara bersamaan perlu menjadi perhatian agar orang tua dapat memberikan pendampingan sedini mungkin.

Untuk itu, ia mendorong orang tua menerapkan pengasuhan responsif, yaitu pola asuh yang peka terhadap kebutuhan anak, memberikan rasa aman, serta membangun komunikasi dua arah.

"Keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang rasa aman, percaya diri, dan dihargai. Dari rumah yang penuh kasih, perlindungan diri anak tumbuh kuat setiap hari," tuturnya.

Baca juga: Mendukbangga manfatkan ruang ramah anak, tekan gangguan mental remaja

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.