Untuk sementara kami nonaktifkan dulu dari pelayanan. Kamis pagi kami langsung melakukan investigasi. Komite Keperawatan turun, kepala bidang turun, kemudian yang bersangkutan kami panggil untuk dimintai keterangan

Bandung (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menonaktifkan sementara seorang oknum perawat setelah yang bersangkutan diduga mengunggah komentar yang dinilai tidak berempati di media sosial.

Direktur RSUD Cicalengka Yani Sumpena Muchtar di Bandung, Jumat, mengatakan pihaknya langsung menonaktifkan sementara dan melakukan investigasi setelah menerima laporan melalui akun media sosial rumah sakit.

"Untuk sementara kami nonaktifkan dulu dari pelayanan. Kamis pagi kami langsung melakukan investigasi. Komite Keperawatan turun, kepala bidang turun, kemudian yang bersangkutan kami panggil untuk dimintai keterangan," ujarnya.

Hasil penelusuran internal menemukan oknum perawat tersebut turut memberikan komentar pada unggahan terkait meninggalnya pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), almarhum Yurizal.

Menurut dia, rumah sakit segera mengambil langkah administratif dengan memberikan pembinaan, menarik sementara yang bersangkutan dari pelayanan, serta melaporkan kasus tersebut kepada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).

Baca juga: Respons kasus pasien BPJS, DPR desak evaluasi menyeluruh etika nakes

"Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, sambil menunggu proses administrasi lebih lanjut. Hari ini juga kami melaporkan ke BKPSDM," tambah Yani Sumpena.

Ia mengatakan oknum perawat tersebut juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui video.

Dalam pernyataannya, yang bersangkutan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Yurizal, meminta maaf kepada keluarga korban, Direktur RSUD Cicalengka, masyarakat, serta menyatakan siap menerima sanksi dari instansi tempatnya bekerja.

Komentar yang dinilai nir-empati terhadap pasien BPJS tersebut menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial dan memicu reaksi warganet.

Yani mengaku kecewa atas tindakan oknum pegawainya karena terjadi di tengah upaya RSUD Cicalengka membangun budaya pelayanan 5S, yakni Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun.

Baca juga: Kemenkes: Pasien BPJS yang viral tunggu 8 jam karena HCU RSCM terbatas

"Sebetulnya kami sangat kecewa. Saat ini kami sedang gencar membudayakan 5S untuk meningkatkan mutu pelayanan, tetapi ada oknum yang menggunakan bahasa yang kurang pantas di media sosial," katanya.

Pada kesempatan tersebut ia menegaskan peristiwa yang menjadi pembahasan di media sosial tersebut tidak terjadi di RSUD Cicalengka.

Namun keterlibatan oknum pegawai dalam memberikan komentar yang dinilai tidak beretika membuat identitas tempat kerjanya diketahui publik, sehingga memicu sorotan warganet.

"Perlu kami luruskan bahwa kejadiannya bukan di RSUD Cicalengka. Yang menjadi persoalan adalah komentar oknum pegawai kami yang dinilai kurang beretika," ujar Yani.

Ia menambahkan RSUD Cicalengka akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat pembinaan etika profesi dan etika bermedia sosial bagi seluruh pegawai agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca juga: Burnout dapat picu perilaku impulsif di media sosial

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.