Depok (ANTARA) - Akademisi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Ellia Kristiningrum mengembangkan bisnis baterai bekas pakai untuk mendukung transisi energi nasional.

“Baterai kendaraan listrik tidak seharusnya dipandang sebagai limbah ketika masa gunanya di kendaraan telah berakhir. Melalui konsep second life, baterai masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat besar sebagai penyimpanan energi," kata Ellia Kristiningrum di kampus UI Depok, Jumat.

Melalui risetnya Ellia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude melalui penelitian yang mengembangkan model bisnis berbasis ekosistem untuk pemanfaatan kembali baterai kendaraan listrik setelah masa pakainya berakhir.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Model Bisnis Baterai Second Life Kendaraan Listrik di Indonesia Berbasis Perspektif Ekosistem” menawarkan solusi atas salah satu tantangan terbesar dalam transisi energi: pengelolaan baterai kendaraan listrik yang kapasitasnya menurun.

Baca juga: BYD kaji ekosistem kelola baterai bekas mobil listrik di Indonesia

"Meski tidak lagi optimal digunakan pada kendaraan, baterai tersebut masih memiliki kemampuan menyimpan energi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sistem penyimpanan listrik untuk sektor industri, komersial, maupun komunitas," katanya.

Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang umur pakai baterai, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan mengurangi dampak lingkungan akibat limbah baterai.

Ellia menekankan bahwa keberhasilan pemanfaatan kembali baterai tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada tata kelola, koordinasi, dan pertukaran informasi antarpemangku kepentingan.

Model bisnis yang dikembangkannya menempatkan ecosystem orchestrator sebagai penghubung utama antara produsen kendaraan, produsen baterai, perusahaan pengujian, industri pemanfaatan kembali, perusahaan daur ulang, regulator, hingga pengguna akhir.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.