Istanbul (ANTARA) - Sejumlah ilmuwan asal Amerika Serikat pada Kamis (6/8) mengumumkan penelitian baru yang menggunakan kecerdasan buatan generatif (AI) untuk merancang virus baru yang tidak ditemukan di alam yang berpotensi membuka jalan bagi penciptaan seluruh sistem biologis pada skala genom.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science tersebut, menurut para peneliti, "menggunakan model AI generatif yang dilatih pada jutaan genom alami untuk merancang seluruh bakteriofag," yaitu virus yang menginfeksi dan dapat berlipat ganda di dalam bakteri.

Para ilmuwan dari Universitas Stanford dan Arc Institute, organisasi nirlaba yang berbasis di California yang didedikasikan untuk penelitian "berisiko tinggi, berpotensi memberikan hasil tinggi", menggunakan dua "model bahasa genom" bernama Evo 1 dan Evo 2 dalam proses rancangan mereka.

Evo 1 dan 2 bekerja berdasarkan prinsip yang mirip dengan model bahasa besar, tetapi alih-alih menulis teks, mereka memperkirakan urutan genetik. Data pelatihan mereka terdiri atas genom virus, bakteri, dan organisme yang lebih rumit seperti tumbuhan dan hewan.

Para peneliti menyintesis hampir 300 genom secara kimiawi dan mengujinya dalam kondisi laboratorium. Eksperimen tersebut menghasilkan 16 bakteriofag hasil rekayasa buatan dengan "urutan, struktur, dan profil kebugaran yang beragam.”

Saat diuji, virus hasil rekayasa genetika terbukti lebih efektif dalam membunuh bakteri E. coli dibandingkan virus yang terjadi secara alami.

Studi itu menyebutkan bahwa pendekatan yang dilakukan memperluas hal yang dapat dicapai oleh genomika sintetis bersamaan dengan metode seperti evolusi terarah dan rekayasa rasional.

Menurut studi tersebut, hal itu dapat membuka jalan untuk menghasilkan terapi fag yang adaptif dan tangguh terhadap patogen yang berevolusi dengan cepat, dan membangun fondasi untuk desain generatif genom yang lebih besar dan kompleks.

Para peneliti mengatakan bahwa langkah awal dalam desain genom berbasis AI itu dapat membuka jalan bagi perangkat yang lebih luas untuk pengurutan dan sintesis genom bagi sistem biologis dan pengobatan yang lebih besar.

Sumber: Anadolu

Baca juga: UNICEF: 330 anak meninggal akibat Ebola di RD Kongo

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.