Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Leonardo A.A. Teguh Sambodo menyatakan kopi dan kakao menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga Indonesia.

“Kopi dan kakao tidak hanya menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi, tetapi juga sumber penghidupan jutaan keluarga Indonesia yang kini semakin rentan terhadap perubahan iklim,” katanya dalam Acara Multi-Stakeholder Workshop & Project Kick-Off Supporting the Launch of a National Parametric Insurance Scheme for Coffee and Cocoa Farmers in Indonesia, dari keterangan resmi, di Jakarta, Jumat.

Kendati begitu, menurut dia, sektor itu disebut masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain rendahnya produktivitas, lemahnya sistem ketertelusuran (traceability), serta kerentanan petani kecil yang berpotensi mempengaruhi daya saing dan pangsa pasar Indonesia di tingkat global.

Karena itu, lanjut dia, diperlukan strategi terpadu yang memperkuat akses petani terhadap input produksi, pembiayaan, teknologi, serta membuka akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Bappenas berkolaborasi bersama InsuResilience Solutions Fund (ISF), PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), dan Blue Marble Microinsurance mendukung penguatan sektor pertanian menjadi lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Upaya ini diharapkan mampu memperluas akses perlindungan dan pembiayaan yang inklusif bagi petani kopi dan kakao, sekaligus mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Kegiatan ini menandai dimulainya proyek percontohan pengembangan asuransi parametrik untuk petani kopi dan kakao yang akan menguji desain produk, integrasi dengan pembiayaan usaha, serta mekanisme implementasi di sejumlah wilayah.

Baca juga: 1.800 petani kopi di Bener Meriah miliki asuransi risiko gagal panen

Baca juga: Lindungi 1.500 petani, Zurich Syariah luncurkan Asuransi Parametrik

Ia berharap, hasil proyek itu menjadi dasar penyusunan model nasional yang mampu memperkuat ketahanan petani terhadap risiko iklim sekaligus mendukung keberlanjutan rantai pasok komoditas strategis Indonesia.

“Kopi dan kakao merupakan komoditas perkebunan strategis Indonesia yang berorientasi ekspor dengan sebagian besar produksi berasal dari perkebunan rakyat. Hal tersebut menegaskan pentingnya penguatan perlindungan bagi petani sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan pasokan dan daya saing komoditas nasional,” ungkap Teguh.

Ia menjelaskan, skema asuransi parametrik memungkinkan pembayaran klaim dilakukan lebih cepat karena menggunakan indikator iklim yang objektif, seperti curah hujan dan suhu, sehingga petani dapat segera memulihkan usaha mereka akibat terdampak cuaca ekstrem.

"Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan mendukung penyaluran manfaat yang lebih tepat waktu saat risiko iklim terjadi," katanya.

Ke depan, skema ini diharapkan mampu memberikan perlindungan risiko iklim yang mandiri, layak secara komersial, serta bermanfaat nyata bagi petani kopi dan kakao di Indonesia dengan penerapan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Di saat yang sama, Senior Project Manager InsuResilience Solutions Fund (ISF) Koray Alus menyampaikan bahwa pihaknya mendukung pengembangan solusi asuransi risiko iklim yang dapat diakses oleh para petani kecil.

“Kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor asuransi, dan mitra pembangunan sangat penting untuk memastikan solusi ini menjawab kebutuhan nyata para petani dan tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Kami bangga mendukung inisiatif yang menunjukkan bagaimana ketahanan iklim dapat diperkuat dalam skala besar,” ujar Koray.

Baca juga: OJK NTB jadikan kakao komoditas prioritas pengembangan ekonomi

Baca juga: Kemenperin sebut industri kakao RI jadi pilar utama di Asia

Baca juga: Pemkab Gunungkidul: Festival Cokelat 4.0 perkuat hilirisasi kakao

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.