Moskow (ANTARA) - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memperketat penjagaan keamanan selama melakukan liburan di Kepulauan Canary dan mewajibkan semua pengunjung kediamannya menyerahkan ponsel mereka terlebih dahulu.
Surat kabar La Razon pada Jumat, yang mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa langkah pengamanan yang diperketat tersebut bertujuan untuk sepenuhnya menghilangkan kemungkinan terjadinya spionase elektronik.
Pada Selasa, portal berita Okdiario melaporkan bahwa Sanchez telah berangkat ke Kepulauan Canary untuk berlibur kendati krisis migrasi masih berlangsung di wilayah Spanyol, Ceuta.
Pekan lalu, kota otonom Spanyol, Ceuta, yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan dengan Maroko, menghadapi gelombang besar migran.
Sekitar 60.000 orang dilaporkan menyeberang ke wilayah tersebut dalam satu hari, sementara Ceuta sendiri memiliki populasi sekitar 85.000 jiwa.
Sejumlah pejabat dari beberapa negara anggota Uni Eropa, termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, telah menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol dalam kawasan Schengen.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan siap menangani upaya baru terkait para imigran ilegal dari Maroko yang akan memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta, menurut laporan surat kabar 20minutos pada Jumat.
Radio Cadena SER melaporkan, dengan mengutip sumbernya, bahwa gelombang baru imigran dari Maroko ke Ceuta mungkin akan terjadi sebelum 15 Agustus.
“Kami akan siap menangani situasi ini,” kata seorang sumber di Kemendagri Spanyol kepada surat kabar tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: PM Spanyol kritik respon Eropa terhadap krisis Ceuta
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.