Teheran (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali komitmen negaranya untuk menempuh jalur dialog demi melindungi hak-haknya, seraya menekankan bahwa Teheran tidak dapat dipaksa untuk menyerah.

Pezeshkian menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara yang dirilis di situs web resmi kepresidenan Iran pada Jumat (7/8).

Dia membela keputusan pemerintah Iran untuk berunding dengan Amerika Serikat (AS) dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait penghentian perang.

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada kewajibannya selama AS juga memenuhi komitmennya dalam MoU tersebut.

"Jika mereka gagal memenuhi komitmennya, kami pun tidak memiliki kewajiban untuk melanjutkannya," ujar Pezeshkian.

Sebelumnya pada pekan ini, Pezeshkian membantah bahwa dirinya akan mundur dari jabatan. Dia menegaskan akan "melanjutkan tugasnya dengan tegas."

Pernyataan itu disampaikan di tengah beredarnya isu "perpecahan" dalam kepemimpinan Iran terkait MoU penghentian perang dengan AS.

Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani MoU yang menyatakan kedua pihak akan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari guna mencapai kesepakatan final.

Namun, ketegangan yang kembali memuncak di antara kedua pihak kini membuat nasib perundingan tersebut menjadi tidak pasti.

Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.