Kuala Lumpur (ANTARA) - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru menyampaikan bahwa 12 perawat asal Indonesia untuk pertama kalinya secara resmi diterima bekerja di rumah sakit swasta di Malaysia, menandai tonggak baru kerja sama Indonesia-Malaysia di bidang kesehatan.

“Pada 7 Agustus 2026, sebanyak 12 perawat Indonesia resmi diterima oleh Regency Specialist Hospital (RSH), Johor. Ini menandai untuk pertama kalinya perawat Indonesia bekerja di rumah sakit swasta di Malaysia,” demikian keterangan KJRI Johor Bahru yang diterima di Kuala Lumpur, Sabtu.

Penerimaan resmi ke-12 perawat tersebut dilakukan oleh CEO RSH Serena Yong dalam sebuah acara resepsi di RSH.

KJRI Johor Bahru menyebut langkah tersebut sebagai tonggak baru dalam kerja sama Indonesia-Malaysia di bidang kesehatan.

Kehadiran para perawat itu membuka jalur baru bagi tenaga kesehatan terampil Indonesia untuk berkarier di Malaysia, sekaligus memberikan peluang bagi rumah sakit swasta Malaysia untuk mendapatkan tenaga keperawatan berkualitas.

Ke-12 perawat tersebut merupakan bagian dari 13 perawat Indonesia yang dinyatakan lulus Malaysia Nursing Board Examination for Foreign Trained Nurses pada 5 Maret 2026. Namun, satu perawat lainnya memilih memperpanjang kontrak kerja di Arab Saudi.

Para perawat tersebut memiliki pengalaman bekerja di sejumlah rumah sakit di Indonesia maupun luar negeri, termasuk Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Menurut KJRI Johor Bahru, sebelum mulai bekerja di Malaysia, para perawat harus melalui proses seleksi serta memenuhi berbagai persyaratan profesional, perizinan, dan keimigrasian yang ditetapkan oleh otoritas Malaysia.

Bagi Indonesia, kesempatan tersebut menunjukkan bahwa tenaga kesehatan Indonesia memiliki kompetensi dan pengalaman yang mampu memenuhi standar profesi yang berlaku di tingkat internasional.

Sementara bagi Malaysia, kehadiran para perawat Indonesia memberikan tambahan tenaga profesional bagi sektor rumah sakit swasta sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kerja sama kesehatan yang lebih luas.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru Sigit S. Widiyanto mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang dan kerja bersama berbagai pihak di Indonesia dan Malaysia.

“Keberhasilan ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada proses panjang dan kerja bersama selama berbulan-bulan yang melibatkan Regency Specialist Hospital, PPNI, IRDA, MPC, otoritas terkait di Malaysia, dan KJRI Johor Bahru,” ujar Sigit.

Menurut Sigit, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kerja sama yang dibangun berdasarkan kebutuhan bersama dapat menciptakan peluang baru bagi kedua negara.

“Ini menunjukkan bahwa ketika berbagai pihak mau duduk bersama dan mencari solusi, peluang-peluang baru dapat terbuka,” kata Sigit.

Lebih jauh Sigit menyampaikan ke-12 perawat Indonesia tersebut bekerja di Malaysia sebagai tenaga profesional asing atau ekspatriat sesuai ketentuan yang berlaku, dengan Employment Pass (EP) Category III.

Sebelum mulai bekerja, mereka juga harus memenuhi persyaratan profesi keperawatan di Malaysia, termasuk memperoleh Temporary Practising Certificate (TPC) dari Nursing Board Malaysia.

Menurut Sigit, dengan demikian perekrutan tidak hanya membuka akses kerja bagi tenaga kesehatan Indonesia, tetapi juga menunjukkan kemampuan tenaga profesional Indonesia memenuhi standar dan persyaratan profesi yang ditetapkan di Malaysia.

Kerja sama tersebut selanjutnya diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Regency Specialist Hospital dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

MoU tersebut diharapkan tidak hanya menjadi landasan perekrutan tenaga perawat, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan profesional, pendidikan dan pelatihan meperawatan, serta pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia.

Sigit menilai bergabungnya para perawat Indonesia perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar daripada sekadar pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, melainkan berkembang ke peningkatan kapasitas, pendidikan dan pelatihan, pertukaran pengetahuan, serta bentuk-bentuk kerja sama lain yang bermanfaat bagi kedua negara.

Menurutnya, kedekatan geografis, budaya, dan bahasa Indonesia-Malaysia menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan kerja sama tersebut. Bagi perawat Indonesia, kedekatan tersebut dapat membantu proses adaptasi dengan lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari di Johor.

Sementara bagi rumah sakit, selain mendapatkan tenaga profesional berpengalaman, kemiripan bahasa dan budaya dapat mendukung komunikasi dengan pasien serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

KJRI Johor Bahru memandang masuknya kelompok pertama perawat Indonesia tersebut aebagai langkah awal yang berpotensi membuka akses lebih luas bagi tenaga profesional mesehatan Indonesia untuk berkarier di Malaysia.

Ke depan, keberhasilan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi model kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua negara yakni membuka kesempatan profesional bagi tenaga mesehatan Indonesia sekaligus mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia di Malaysia.

Baca juga: Malaysia pertimbangkan menambah perawat Indonesia ke negaranya

Baca juga: Dubes RI dorong percepatan perjanjian kerja Pekerja Migran Indonesia

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.