Kalau kangen orang rumah, cuma nangis di kamar, tenangin diri
Depok, Jawa Barat (ANTARA) - Derap langkah sepatu bersahutan di lapangan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, Sabtu siang.
Lapangan itu disulap sedemikian rupa menyerupai denah halaman Istana Merdeka, tempat upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia akan digelar.
Di tengah barisan calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dari berbagai penjuru Indonesia itu, Ismi Ulfaida berdiri tegap mengenakan seragam dan topi latihan.
Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu menjadi sosok yang membawa cerita berbeda dalam barisan tersebut.
Ismi merupakan siswa pertama dari Sekolah Rakyat yang terpilih sebagai calon anggota Paskibraka yang akan bertugas pada peringat HUT RI di Istana Merdeka, 17 Agustus.
Bersama M Deni Fikri dari UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo, Ismi menjadi perwakilan Sulawesi Barat dalam Paskibraka 2026.
Dia berhasil mengharumkan nama Sekolah Rakyat yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto di bidang pendidikan.
Dengan mata berbinar, gadis 16 tahun itu mengaku tidak menyangka dapat melewati seluruh tahapan seleksi hingga tingkat nasional.
"Saya juga enggak nyangka bisa sampai di tingkat nasional karena targetnya provinsi," kata Ismi saat ditemui disela-sela latihan gabungan Paskibraka.
Perjalanan Ismi dimulai dari seleksi di sekolah. Saat itu, hanya dua siswa dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar yang mengikuti seleksi, yakni Ismi dan seorang siswa laki-laki. Dia menjadi satu-satunya siswa dari sekolahnya yang lolos untuk melanjutkan seleksi ke tingkat kabupaten.
Setelah dinyatakan lulus di tingkat kabupaten, dia melanjutkan seleksi tingkat provinsi. Tahapan tersebut juga berhasil dilewatinya hingga mengikuti proses verifikasi di tingkat pusat.
"Alhamdulillah saya lulus sampai di tingkat pusat. Terus saya mengikuti pelatihan," ujar siswi yang masuk Sekolah Rakyat pada September 2025 itu.
Keinginan Ismi untuk menjadi Paskibraka sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Dia ingin menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera karena ingin menanamkan nilai nasionalisme dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Untuk mewujudkan keinginannya, Ismi mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar, latihan peraturan baris berbaris (PBB), serta mengasah minat dan bakat.
Proses tersebut akhirnya membawanya jauh dari Polewali Mandar menuju Depok, Jawa Barat. Selama sekitar tiga pekan mengikuti pelatihan, Ismi harus menjalani rutinitas yang padat sekaligus beradaptasi dengan kehidupan bersama perwakilan Paskibraka dari berbagai daerah.
Setiap hari dimulai sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah mandi dan melaksanakan salat Subuh, dia mengikuti olahraga pagi. Latihan utama kemudian berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
Setelah latihan, kegiatan berlanjut dengan mandi, salat Magrib, makan malam, dan salat Isya. Pada malam hari, dia dan 75 anggota Paskibraka lainnya mengikuti materi apabila terdapat agenda pembelajaran. Jika tidak ada materi, waktu digunakan untuk beristirahat.
Rutinitas yang padat tersebut menjadi salah satu tantangan baru bagi Ismi. Dia harus membiasakan diri melakukan berbagai kegiatan dengan cepat, berbeda dengan kebiasaannya ketika berada di rumah.
"Kalau di rumah enggak terlalu cepat," kata siswi kelas 11 itu.
Tantangan terbesar
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.