Jakarta (ANTARA) - Kopral Satibi panik. Ia baru saja mendapatkan laporan warga mengenai kedatangan dua serdadu Belanda ke arah mereka. Serdadu itu segera memberitahukan kawan-kawan satu seksinya untuk bersiap di titik-titik strategis.
"Kami tidak menyangka tentara Belanda bisa menemukan posisi kami yang ada di pelosok terpencil," kata Satibi, seperti disitir dari laman Historia.id, mengenang peristiwa di Kalapa Nunggal, Cianjur, pada 1947 tersebut.
Pasukan kecil Satibi sudah siap menembak saat dua lelaki berpakaian khaki muncul, ketika tiba-tiba salah satu lelaki tersebut berteriak, "Heh kalian itu kenapa? Di sini saya Kawilarang, komandan TNI" ujarnya.
Satibi adalah mantan anak buah A.E Kawilarang di Brigade II Suryakancana, Divisi Siliwangi.
Alexander Evert Kawilarang, atau Alex demikian teman-temannya memanggil dia, memang kerap disangka tentara musuh karena postur tubuhnya mirip orang Belanda. Penampilannya itu menjadi kamuflase alami ketika ia harus melakukan pengintaian ke daerah yang dikuasai Belanda. Pada masa memimpin operasi gerilya di Jawa Barat, ia disebutkan beberapa kali menyamar untuk menembus wilayah musuh.
Kawilarang adalah tokoh dengan perjalanan yang kompleks. Ia pejuang kemerdekaan, pendiri pasukan elite, dan penumpas pemberontakan. Ironisnya, ia kemudian justru bergabung dalam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), sebuah gerakan melawan pemerintah pusat di Sulawesi Utara, sebelum akhirnya kembali berdamai dengan Republik.
Pada awal 1950-an, sosok yang yang lulus dari Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA) dengan predikat meester in all wapens (ahli segala senjata) ini memimpin operasi penumpasan pemberontakan di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk pemberontakan Andi Azis di Makassar, Sulawesi Selatan, pada April 1950 dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku pada November 1950.
Saat penumpasan Pemberontakan RMS itulah, komandan operasi Letkol Slamet Riyadi mencetuskan ide untuk membentuk satuan prajurit yang bisa menjadi "pemukul" yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran, sekalipun di medan yang berat. Namun, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran di Ambon, sebelum ide tersebut terwujud.
Kawilaranglah yang kemudian mewujudkan gagasan pembentukan pasukan khusus itu dengan membentuk Kesatuan Komando Teritorium III pada 16 April 1952. Kesatuan Komando Teritorium III adalah cikal bakal Kopassus atau Korps Baret Merah TNI Angkatan Darat.
Berhadapan dengan "anak"
Namun siapa sangka, Kawilarang dalam satu babak hidupnya justru harus berhadapan dengan pasukan elite yang dibentuknya itu, saat ia bergabung dengan Gerakan Permesta yang oleh Pemerintah Pusat dianggap sebagai pemberontak.
Kawilarang --lahir pada 23 Februari 1920 dari keluarga berlatar belakang militer-- sebenarnya sudah memiliki kehidupan yang boleh dibilang nyaman dengan jabatannya sebagai atase militer di AS. Namun pada 22 Maret 1958, ia justru mengundurkan diri dari jabatannya itu dan memilih pulang ke Indonesia. Ia kemudian bergabung dengan Permesta.
Gerakan Permesta dimulai dengan dicetuskan dan diproklamasikannya Piagam Permesta oleh Ventje Sumual pada 2 Maret 1957. Pergolakan di daerah-daerah memuncak saat itu.
Daerah menuntut peningkatan kesejahteraan serta otonomi daerah. Situasi ini diperparah dengan kekecewaan masyarakat terhadap hasil Pemilu 1955 yang tidak sesuai harapan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.