Banyak inovasi berhenti di wilayah yang dikenal sebagai valley of death, lembah kematian inovasi,

Jakarta (ANTARA) - Indonesia tidak kekurangan riset nanoteknologi. Di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, kita dapat menemukan studi tentang nanopartikel, nanomaterial, nanosensor, membran, biomaterial, sistem penghantaran obat, material energi, hingga pemanfaatan biomassa dan sumber daya alam.

Paper terbit, prototipe dibuat, paten didaftarkan. Namun pertanyaan terpenting justru muncul setelah itu: Berapa banyak hasil penelitian tersebut yang benar-benar menjadi produk, layanan, atau teknologi yang digunakan masyarakat?

Di sinilah persoalan utama pengembangan nanoteknologi kita berada. Tantangannya bukan semata-mata kemampuan menghasilkan pengetahuan baru, melainkan kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi manfaat.

Banyak inovasi berhenti di wilayah yang dikenal sebagai valley of death, lembah kematian inovasi, yaitu tahap ketika hasil laboratorium belum cukup matang, belum cukup konsisten, belum cukup ekonomis, atau belum memiliki jalur regulasi dan pasar untuk menjadi produk nyata.

Jarak antara laboratorium dan aplikasi memang tidak sederhana. Material yang bekerja sangat baik pada skala miligram atau gram belum tentu mempertahankan karakter yang sama ketika diproduksi dalam jumlah besar.

Perubahan suhu, kecepatan pencampuran, kualitas bahan baku, kelembaban, metode pengeringan, urutan proses, atau kondisi penyimpanan dapat mengubah sifat akhir nanomaterial.

Dalam aplikasi kesehatan, persoalannya bertambah karena produk juga harus memenuhi tuntutan keamanan, toksikologi, biodistribusi, stabilitas, konsistensi antar-batch, efektivitas, serta regulasi.

Karena itu, kesalahan yang perlu dihentikan adalah memperlakukan hilirisasi sebagai pekerjaan yang baru dimulai setelah penelitian selesai. Translasi bukan bab terakhir penelitian. Ia harus menjadi bagian dari desain penelitian sejak pertanyaan pertama dirumuskan.

Sejak awal, peneliti perlu mengetahui masalah apa yang hendak diselesaikan, siapa pengguna akhirnya, atribut mutu apa yang harus dipertahankan, bagaimana teknologi akan diproduksi dalam skala lebih besar, berapa kira-kira biayanya, regulasi apa yang harus dipenuhi, dan siapa mitra yang dapat membawanya ke tahap berikutnya.

Pertama, riset nanoteknologi perlu lebih kuat berbasis problematika, bukan semata-mata berbasis material. Pertanyaan “nanomaterial apa yang dapat kita buat?” perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih penting dan spesifik: “masalah apa yang dapat kita selesaikan dengan lebih baik?”

Indonesia memiliki kebutuhan nyata dalam kesehatan, air bersih, pangan, lingkungan, energi, dan material maju. Fokus pada kebutuhan konkret akan membantu riset memiliki jalur translasi yang lebih jelas sekaligus mencegah inovasi berhenti sebagai demonstrasi teknologi yang menarik tetapi tidak memiliki pengguna.

Pelibatan industri

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.